Perang AS-Iran Bisa Meledak Lagi! Israel Siapkan Skenario Serangan
TEL AVIV, iNews.id - Perang Amerika Serikat (AS)-Iran berpotensi kembali meledak. Israel dilaporkan tengah menyiapkan skenario serangan baru terhadap Iran, bahkan jika Washington tidak ikut terlibat secara langsung.
Laporan media Israel yang dikutip Anadolu menyebut militer Israel bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran, baik dilakukan bersama AS maupun secara sepihak. Persiapan itu dilakukan ketika ketegangan antara kedua negara masih tinggi dan jalur diplomasi belum menghasilkan kesepakatan.
Israel juga terus berkoordinasi erat dengan Komando Pusat AS (CENTCOM). Militer Zionis disebut menyiapkan langkah ofensif sekaligus tindakan pencegahan untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan Iran.
Situasi semakin serius karena Amerika dilaporkan juga memperkuat kehadiran militernya di Israel. Sekitar 3.000 personel AS saat ini berada di berbagai wilayah Israel, termasuk personel yang mengoperasikan sistem pertahanan udara, pilot, kru pendukung, logistik, dan personel markas. Tambahan pasukan serta pesawat militer AS diperkirakan tiba dalam beberapa pekan mendatang.
Israel Siapkan Serangan Tanpa AS
Laporan mengenai opsi serangan Israel secara mandiri sebenarnya bukan hal baru.
Pada Agustus lalu, media Israel melaporkan militer tetap mempertahankan rencana menyerang Iran tanpa keterlibatan langsung AS. Saat itu, Washington disebut tengah mencari jalan keluar diplomatik dari konflik, sementara Israel tetap mempertahankan opsi operasi unilateral.
Kini, laporan terbaru menunjukkan opsi tersebut kembali menjadi perhatian ketika ketegangan dengan Iran meningkat.
Israel berdalih program nuklir Iran merupakan persoalan keamanan yang mendesak. Namun, serangan baru berisiko membuka kembali rangkaian serangan balasan yang sebelumnya melibatkan Iran, Israel, AS, serta sejumlah negara di kawasan.
Iran Siapkan Balasan Lebih Keras
Teheran pun tidak tinggal diam. Reuters melaporkan Iran tengah mempersiapkan respons yang lebih luas dan lebih kuat apabila AS kembali melancarkan serangan berskala besar. Para komandan Iran disebut mempertimbangkan target, lokasi, dan waktu untuk kemungkinan serangan balasan.
Artinya, jika Israel memutuskan menyerang Iran lagi, konflik tidak otomatis berhenti pada duel Israel-Iran.
Serangan dapat kembali menyeret AS dan berpotensi memperluas medan konflik ke berbagai titik di Timur Tengah.
9.000 Tentara AS Dikirim ke Timur Tengah
Pada saat yang sama, AS juga dilaporkan meningkatkan kekuatan militernya di kawasan.
Associated Press melaporkan Washington mengerahkan sekitar 9.000 personel tambahan dan kapal induk ketiga ke Timur Tengah. Dengan pengerahan tersebut, jumlah personel militer AS di kawasan diperkirakan dapat menembus 20.000 orang pada akhir Oktober.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika Presiden Donald Trump membuka kemungkinan peningkatan operasi militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS.
Kondisi ini membuat kawasan berada dalam situasi yang sangat sensitif: Israel mempersiapkan opsi serangan, AS memperkuat kekuatan militernya, sementara Iran menyiapkan kemungkinan serangan balasan yang lebih besar.
Hormuz Jadi Titik Rawan
Ancaman eskalasi juga berpotensi kembali mengguncang Selat Hormuz.
Reuters melaporkan harga minyak Brent kini berada di atas 100 dolar AS per barel, sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang. Gangguan logistik dan risiko keamanan di kawasan membuat pasar energi global tetap berada dalam tekanan.
Reuters juga melaporkan setidaknya tujuh kapal tanker mengalami serangan pada pekan pertama Oktober. Selat Hormuz sendiri menangani sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia.
Jika serangan baru Israel terhadap Iran benar-benar terjadi dan Tehran kembali menggunakan tekanan terhadap jalur pelayaran, dampaknya tidak hanya dirasakan Israel dan Iran.
Harga minyak, distribusi energi, biaya transportasi, hingga inflasi global bisa kembali terkena dampaknya.
Dengan Israel menyiapkan opsi serangan, AS memperkuat militernya dan Iran mempersiapkan balasan yang lebih luas, risiko pecahnya kembali perang besar Iran-AS dan Israel-Iran kini menjadi salah satu titik rawan utama di Timur Tengah.
Editor: Anton Suhartono