Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Produksi Shale Oil AS Digenjot, OPEC Tak Ambil Pusing
Advertisement . Scroll to see content

Pertama Kali, AS Akan Siarkan Langsung Eksekusi Mati dengan Regu Tembak

Jumat, 09 Oktober 2026 - 06:45:00 WIB
Pertama Kali, AS Akan Siarkan Langsung Eksekusi Mati dengan Regu Tembak
Terpidana mati Nidal Hasan. (Foto: Departemen Sheriff Bell County via AP)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat akan menyiarkan secara langsung eksekusi dengan regu tembak terhadap terpidana mati Nidal Hasan. Dia dijatuhi hukuman mati terkait penembakan di Fort Hood, Texas, pada 2009 yang menewaskan 13 orang.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan (Pentagon) mengatakan eksekusi mati akan dilaksanakan pada 3 Desember mendatang. Jika terwujud ini akan menjadi yang pertama dalam sejarah AS, eksekusi mati disiarkan secara langsung.

Selain itu, Hasan, yang merupakan mantan psikiater Angkatan Darat AS, akan menjadi orang pertama yang dieksekusi mati oleh regu tembak di AS sejak 1945. Hukuman mati biasanya dilakukan dengan suntikan.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam program Human Events Daily yang disiarkan oleh Real America's Voice, mengatakan akan menjadikan eksekusi terhadap pria 56 tahun itu sebagai tontonan publik. Saat itu Hegseth tidak menjelaskan secara rinci bagaimana eksekusi dilakukan.

Namun dia mengatakan, eksekusi akan dilakukan pukul 13.00, pada waktu, hari, dan lokasi yang kurang lebih sama seperti saat penembakan berlangsung pada 2009.

"Kami akan memastikan masyarakat dapat menyaksikannya, bahwa eksekusi ini bersifat terbuka untuk umum. Sebab, orang-orang perlu memahami bahwa ada konsekuensi serius atas tindakan semacam ini," kata Hegseth.

Saat ditanya apakah Hasan memiliki permintaan terakhir, Hegseth menjawab: "Tidak peduli. Kita akan melihatnya pada 3 Desember."

Dewan juri militer menjatuhkan hukuman mati kepada Hasan pada Agustus 2013 setelah menyatakan dirinya bersalah atas 45 dakwaan pembunuhan berencana dan percobaan pembunuhan berencana. Dia melepaskan tembakan menggunakan pistol berbidik laser di sebuah fasilitas medis di pangkalan militer di Texas tersebut.

Penembakan itu terjadi beberapa pekan sebelum Hasan akan dikirim ke Afghanistan.

Dia mengalami kelumpuhan parsial dan harus menggunakan kursi roda akibat tembakan polisi saat penangkapannya. 

Berdasarkan hukum militer AS, presiden AS harus menyetujui pelaksanaan hukuman mati dengan regu tembak. Pentagon mengungkap Presiden Donald Trump telah menyetujui rencana tersebut atas rekomendasi Hegseth.

"Kita belum pernah melakukan hal itu lagi sejak Perang Dunia II. Yah, ini mirip dengan mentalitas yang kita miliki pada masa Perang Dunia II," ujar Hegseth.

Gedung Putih menolak berkomentar mengenai apakah Trump mendukung siaran langsung tersebut dan menyarankan wartawan bertanya langsung ke Pentagon.

Kelompok advokasi Death Penalty Action menyatakan, hukuman Hasan akan menjadi eksekusi militer pertama sejak 1961. Namun eksekusi pada 1961 tersebut dilakukan dengan cara digantung.

Pusat informasi tersebut melaporkan, eksekusi terakhir yang diketahui menggunakan regu tembak militer terjadi pada 1945.

Editor: Rizky Agustian

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut