Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pemerintah Bantah Minta Jepang Setop Bantu Tangani Karhutla: Operasional hanya 2 Minggu
Advertisement . Scroll to see content

PM Jepang Takaichi: Saya Bekerja 3-4 Jam Lebih Lama daripada PM Laki-Laki

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:35:00 WIB
PM Jepang Takaichi: Saya Bekerja 3-4 Jam Lebih Lama daripada PM Laki-Laki
Sanae Takaichi menyebut dirinya bekerja lebih lama dalam sehari dibandingkan PM Jepang sebelumnya yang semuanya laki-laki (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

TOKYO, iNews.id - Perdana Menteri JepangSanae Takaichi menyebut dirinya bekerja lebih lama dalam sehari dibandingkan perdana menteri sebelumnya yang semuanya laki-laki. Ini karena Takaichi masih harus melakukan pekerjaan rumah sebagai seorang istri, sebelum dan sesudah bekerja.

Menurut Takaichi, dia menghabiskan 3 hingga 4 jam lebih lama dibandingkan para pendahulunya dalam bekerja di kantor dan rumah.

"Di pagi hari, saya mandi, menyiapkan sarapan, lalu mencuci piring, belum lagi merias wajah," kata perdana menteri perempuan pertama Jepang itu yang menjabat sejak 2025, dalam pidatonya di parlemen, Rabu (14/10/2026).

Sebagai sosok gila kerja, Takaichi pernah mengatakan hanya tidur 2 hingga 4 jam setiap malam, bahkan terkadang menjadwalkan rapat dengan staf pukul 03.00.

Peran gender sangat kaku di Jepang, bahkan perempuan kurang terwakili di dunia politik. Hanya 68 anggota parlemen perempuan yang terpilih dari 465 kursi yang diperebutkan pada pemilu anggota legislatif pada Februari 2025.

Diskusi tentang manajemen waktu Takaichi muncul ketika seorang anggota koalisi yang berkuasa menanyakan kepadanya tentang jam-jam panjang yang biasa dihabiskan perdana menteri Jepang untuk menghadiri sidang parlemen.

Sudah lazim bagi para pemimpin Jepang untuk menghabiskan 5 hingga 7 jam sehari untuk diinterogasi anggota parlemen oposisi atau sekadar duduk di parlemen.

Anggota parlemen dari Partai Inovasi Jepang, Fumitake Fujita, mengatakan pada 2022, perdana menteri Jepang menghadiri sidang parlemen selama 72 hari, dibandingkan 50 hari di Inggris dan 13 hari di Jerman.

Meski mengakui pentingnya diskusi di legislatif, Fujita mengatakan fakta bahwa pemimpin Jepang terkurung selama berjam-jam di parlemen tidak sesuai dengan standar global.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut