Polandia Panggil Dubes Israel Terkait Omongan Netanyahu soal Holocaust

Anton Suhartono ยท Jumat, 15 Februari 2019 - 19:37 WIB
Polandia Panggil Dubes Israel Terkait Omongan Netanyahu soal Holocaust

Benjamin Netanyahu (Foto: AFP)

WARSAWA, iNews.id - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Polandia memanggil duta besar Israel, Jumat (15/2/2019), terkait laporan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengaitkan negara itu dengan peristiwa pembantaian Yahudi atau Holocaust.

Laporan itu menimbulkan kontroversi di Polandia, bahkan presiden sempat mengancam akan membatalkan pertemuan pada pekan depan antara Israel dengan empat mitra Eropa atau Visegrad Group.

Dubes Israel Anna Azari membantah laporan tersebut. Sebelum dipanggil Kemenlu Polandia, Azari sudah membantah pemberitaan surat kabar Israel Jerusalem Post yang dianggapnya salah mengutip pernyataan Netanyahu. Disebutkan, Polandia bekerja sama dengan Jerman dalam Holocaust. Surat kabar Israel lainnya, Haaretz, juga memuat berita itu.

"Saya hadir saat perdana menteri memberikan pengarahan itu dan tidak ada pernyataan bahwa negara Polandia bekerja sama dengan Nazi. Dia (Netanyahu) hanya mengatakan, tidak ada orang yang sejauh ini dituntut karena berbicara tentang warga Polandia yang bekerja sama dengan mereka (Nazi)," kata Azari, dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip dari AFP.

Sejak lama Polandia bersusah payah membuktikan bahwa negara tidak punya andil dalam Holocaust. Polandia memang diduduki Nazi Jerman saat Perang Dunia II dan kamp penahanan Auschwitz berada di negara itu, namun negara tak ada kaitannya dengan pembantaian Yahudi. Namun pemerintah tak memungkiri jika ada individu warga Polandia yang terlibat.

Sebelum Azari mengklarifikasi laporan itu, Presiden Polandia Andrzej Duda meminta agar pertemuan Visegrad Group yang terdiri dari empat anggota Eropa tengah dan Israel pada pekan depan dipertimbangkan kembali.

Namun setelah itu, juru bicara Duda meluruskan pertemuan itu tetap akan berlanjut. Dia mengatakan, kontroversi itu lahir akibat manipulasi pemberitaan media yang berbahaya.

Editor : Anton Suhartono