Presiden Macron Upayakan Gencatan Senjata Idul Fitri Perang Timur Tengah
BRUSSELS, iNews.id - Prancis mengupayakan gencatan senjata konflik di Timur Tengah berkenaan dengan Hari Raya Idul Fitri. Sebagian besar negara Arab merayakan Idul Fitri hari ini di tengah ketegangan tinggi perang AS-Israel melawan Iran.
“Saat kawasan ini memasuki masa liburan keagamaan, saya kira semua orang harus tenang dan pertempuran harus dihentikan, setidaknya untuk beberapa hari, untuk memberi kesempatan pada negosiasi,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, di KTT Uni Eropa di Brussels, Belgia, dikutip Jumat (20/3/2026).
Dia menambahkan, eskalasi perang Timur Tengah meningkat karena tindakan gegabah.
Pernyataan itu juga disampaikan Macron, setelah berbicara melalui telepon dengan Preaiden AS Donald Trump sehari sebelumnya.
Kesal Dicueki NATO Amankan Selat Hormuz, Trump: Saya Tak Butuh Bantuan!
Macron menolak permintaan Trump untuk mengerahkan kapal perang Prancis ke Selat Hirmuz untuk mengawal kapal-kapal tanker minyak. Trump marah besar lalu mengancam NATO jika tidak menuruti perintahnya.
Di kesempatan yang sama, Kanselir Jerman Frierdich Merz juga menolak permintaan Trump.
Trump Paksa China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Tunda Pertemuan dengan Xi Jinping
“Kami hanya akan melakukannya (mengawal kapal tanker Hormuz) setelah pertempuran berakhir. Mandat internasional (Dewan Keamanan PBB) juga akan diperlukan," katanya.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan Ini adalah momen sangat menentukan bagi Uni Eropa.
"Saya kira kita perlu mengirim pesan yang tegas kepada warga kita dan seluruh dunia bahwa Eropa mendukung hukum internasional dan menentang perang ini," ujarnya.
Dia menyebut serangan AS dan Israel ke Iran sebagai tindakan ilegal. Tidak ada alasan di baliknya dan menyebabkan banyak kerusakan.
Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, mengatakan perang Trump secara tidak langsung telah merenggut satu nyawa warga Eropa, seorang warga Swedia yang tidak disebutkan namanya. Dia dieksekusi oleh Iran pada Rabu lalu atas tuduhan spionase.
“Ada banyak negara Eropa yang, seperti Swedia, memiliki banyak warga yang dipenjara, terutama di Penjara Evin,” katanya.
Editor: Anton Suhartono