Presiden Pezeshkian Jelaskan ke Putin, Kenapa Iran dan AS Tak Kunjung Berdamai
TEHERAN, iNews.id - Presiden IranMasoud Pezeshkian menyampaikan kepada Presiden RusiaVladimir Putin mengenai alasan Iran dan Amerika Serikat (AS) tak kunjung mencapai kesepakatan damai, meski jalur diplomasi terus dibuka.
Dalam percakapan telepon, Pezeshkian mengungkap bahwa negosiasi Iran-AS yang dimediasi Pakistan masih menghadapi hambatan serius. Menurut dia, AS menerapkan standar ganda dan berusaha mendominasi proses perundingan.
Sikap Washington tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan terbesar untuk mencapai kesepakatan yang adil antara kedua negara. Pezeshkian pun menegaskan Iran tetap siap berdamai dengan AS selama Washington menghormati hukum internasional.
Kantor kepresidenan Iran menyebut Pezeshkian memberikan informasi kepada Putin mengenai perkembangan negosiasi dengan AS. Dia menegaskan Teheran menginginkan kesepakatan yang setara dan adil untuk menjamin perdamaian serta keamanan jangka panjang di kawasan.
"Garis merah kami adalah kepentingan nasional Iran dan hak-hak rakyatnya," ujar Pezeshkian kepada Putin, seperti dilaporkan Anadolu, dikutip Jumat (9/10/2026).
Dengan demikian, Teheran menilai persoalan utama bukan penolakan terhadap diplomasi. Iran justru menyatakan pintu perundingan masih terbuka, tetapi kesepakatan harus menghormati kepentingan nasional dan hak-hak Iran.
Sementara itu, Putin kembali menegaskan dukungan Rusia terhadap jalur diplomatik untuk menyelesaikan perang Iran-AS yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Dia menegaskan kesiapan Moskow membantu mencari solusi diplomatik. Putin menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran dalam setiap penyelesaian konflik.
Putin juga mendesak AS memenuhi tuntutan ganti rugi atau kompensasi terhadap Iran atas kerusakan yang terjadi selama perang. Selain itu, dia menilai jaminan keamanan jangka panjang bagi Iran menjadi bagian penting dari penyelesaian konflik.
Peran Pakistan sebagai mediator sebelumnya menjadi salah satu jalur utama komunikasi Iran-AS. Islamabad membantu memfasilitasi perundingan kedua negara sejak perang pecah pada Februari, termasuk proses yang menghasilkan kerangka nota kesepahaman (MoU) pada Juni. Namun, perbedaan antara Teheran dan Washington kemudian kembali memicu kebuntuan.
Dalam perkembangan terbaru, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Washington menginginkan Iran mengurangi secara signifikan kemampuan pengayaan uraniumnya sebagai bagian dari penyelesaian perang. Sementara itu, Teheran tetap mempertahankan haknya untuk melakukan pengayaan sebagai salah satu persoalan penting dalam perundingan.
Editor: Anton Suhartono