Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Duh, 3 Remaja Saudara Kandung Bunuh Diri gegara Dilarang Main Game dan Nonton Drama Korea
Advertisement . Scroll to see content

Profil Srikanth Bolla, Tunanetra India yang Kuliah di AS dan Kini Jadi CEO Perusahaan 

Sabtu, 03 September 2022 - 18:12:00 WIB
Profil Srikanth Bolla, Tunanetra India yang Kuliah di AS dan Kini Jadi CEO Perusahaan 
Srikanth Bolla, CEO Bollant Industries. (Foto: deccanchronicle.com)
Advertisement . Scroll to see content

NEW DELHI, iNews.id - Memiliki kekurangan secara fisik bukan menjadi halangan untuk sukses. Tak jarang, mereka yang hidup dengan kekurangan fisik (difabel) justru berhasil dalam karier dibandingkan orang normal pada umumnya. 

Seperti perjalanan hidup seorang pengusaha buta dari India, Srikanth Bolla. Dia yang tak bisa melihat, kini merupakan seorang industrialis sekaligus CEO sukses yang mampu mendirikan perusahaan senilai Rp932 miliar. 

Bahkan Bollywood akan memfilmkan perjalanan hidup Srikanth Bolla. Film tersebut akan dibintangi aktor terkenal Rajkummar Rao dan mulai syuting pada bulan Juli. 

Srikanth berharap film itu akan mengubah sikap orang-orang yang meremehkan ketika mereka pertama kali bertemu dengan orang sepertinya.

"Awalnya orang akan berpikir, 'oh, dia buta betapa sedihnya' tapi saat saya mulai menjelaskan siapa saya dan apa yang saya lakukan, semuanya berubah," katanya. 

Srikanth Bolla merupakan CEO dari Bollant Industries yang dia bangun pada 2012. Perusahaan tersebut bergerak di bidang pengemasan produk ramah lingkungan, seperti kemasan bergelombang dari daun pinang. Perusahaan tersebut kini bernilai Rp932 miliar.

Di perusahaanya, dia mempekerjakan sebanyak mungkin orang difabel dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan mental. Sebelum pandemi, karyawan dengan kondisi khusus itu berjumlah adalah 36 persen dari 500 stafnya. 

Tahun lalu, di usia 30 tahun, Srikanth berhasil masuk ke dalam daftar Pemimpin Muda Dunia 2021 dari Forum Ekonomi Dunia. Dia berharap dalam tiga tahun perusahaannya, Bollant Industries, akan menjadi IPO Global - di mana sahamnya terdaftar secara bersamaan di beberapa bursa saham internasional.

Perjalanan hidup Srikanth hingga mencapai titik sukses tidak diraih dengan mudah. Dia melalui semua penderitaan sejak kecil. 

Lahir dari orang tua yang miskin dan buta huruf, dia ditolak oleh masyarakat setempat.

"Orang tua saya diberitahu bahwa saya bahkan tidak bisa jaga rumah sendirian karena saya tidak bisa melihat apakah ada anjing jalanan yang masuk. Banyak orang datang ke orang tua saya dan menyarankan untuk membunuh saya dengan bantal," kenang pria berusia 31 tahun itu.

Setiap hari, selama dua tahun, Srikanth Bolla yang saat itu berumur enam tahun harus berjalan beberapa kilometer ke sekolah di perdesaan India. Dia berjalan dipandu oleh saudaranya dan mengikuti teman-teman sekelasnya.

Jalannya berlumpur, ditumbuhi semak belukar, yang tergenang selama musim hujan. Itu bukan saat yang menyenangkan. Parahnya lagi, dia mengaku tak ada orang mau bicara dengannya karena buta.

Namun orang tuanya yang tetap mendukung Srikanth tiba-tiba membawa kabar gembira saat Srikanth berusia delapan tahun. 

Srikanth dapat tempat di sekolah asrama untuk anak-anak tunanetra. Dia akan dipindahkan ke kota terdekat, Hyderabad, yang berjarak 400 km dari rumahnya. Pada saat itu, kota tersebut berada di Negara Bagian Andhra Pradesh.

Meski jauh dari orang tuanya, Srikanth bersemangat dan cepat beradaptasi. Dia belajar berenang, bermain catur, dan bermain kriket dengan bola yang mengeluarkan suara berderak sehingga dia bisa menemukannya. 

"Kuncinya pada tangan dan telinga," ungkapnya.

Srikanth menikmati hobinya itu tetapi juga mulai bertanya-tanya tentang masa depannya. Dia selalu bermimpi menjadi seorang insinyur dan perlu belajar sains dan matematika untuk mewujudkannya.

Saat remaja itulah, Srikanth diberitahu bahwa belajar matematika dan sains di sekolah menengah atas adalah hal yang terlarang untuk dirinya. Hal itu karena dia buta. 

Sekolah-sekolah India dikelola oleh beberapa badan, masing-masing dengan aturannya sendiri. Beberapa berada di bawah pemerintah negara bagian atau dewan pusat, yang lain dikelola swasta.

Sekolah Srikanth dikelola oleh Dewan Pendidikan Negara Bagian Andhra Pradesh. Dia tidak diizinkan untuk mengajar sains dan matematika kepada siswa senior yang buta karena dianggap terlalu menantang dengan elemen visualnya, seperti diagram dan grafik.

Maka, mereka hanya boleh belajar seni, bahasa, sastra, dan ilmu sosial.

Mereka berdua lalu pergi ke Dewan Pendidikan Menengah di Andhra Pradesh untuk mengajukan permohonan. Tetapi mereka diberi tahu bahwa tidak ada yang bisa dilakukan.

Pantang menyerah, dia lantas menggugat pemerintah suatu negara bagian di India untuk mencabut larangan itu. Dia mendapat seorang pengacara dan dengan dukungan dari tim manajemen sekolah, dia mengajukan permohonan ke Pengadilan Tinggi Andhra Pradesh dengan meminta perubahan atas undang-undang pendidikan yang membolehkan siswa tunanetra belajar matematika dan sains.

"Sang pengacara memperjuangkannya atas nama kami," kata Srikanth, jadi dia tidak perlu hadir di sidang pengadilan.

Setelah permohonannya mendapat perhatian, Srikanth mendengar desas-desus bahwa sebuah sekolah umum di Hyderabad, Chinmaya Vidyalaya yang beroperasi di bawah badan pendidikan yang berbeda menawarkan sains dan matematika kepada siswa tunanetra.

Sekolah itu menawarkan tempat untuknya bila dia tertarik. Srikanth pun tidak menyia-nyiakan tawaran itu.

Dia merupakan satu-satunya siswa tunanetra di kelasnya. Tetapi dia merasa mereka menyambutnya dengan tangan terbuka.

"Guru kelas saya sangat ramah. Dia melakukan segalanya untuk membantu saya. Dia sampai belajar cara menggambar diagram taktil," katanya. 

Diagram taktil dapat, misalnya, dibuat menggunakan film tipis di atas tikar karet. Ketika gambar dibuat di atas nya dengan pensil, maka muncul garis terangkat yang dapat dia rasakan.

Enam bulan kemudian ada berita dari pengadilan, Srikanth telah memenangkan kasusnya. Pengadilan telah memutuskan siswa tunanetra bisa belajar sains dan matematika di semua sekolah negeri di Andhra Pradesh.

"Saya sangat gembira. Saya mendapat kesempatan pertama untuk membuktikan kepada dunia bahwa saya bisa melakukannya dan generasi muda tidak perlu khawatir tentang mengajukan kasus dan berjuang melalui pengadilan," katanya.

Srikanth segera kembali ke sekolah negeri dan belajar matematika dan sains. Dia meraih nilai rata-rata 98 persen dalam ujiannya. Dia berencana mendaftar ke perguruan tinggi teknik bergengsi India yang dikenal sebagai IIT (Institut Teknologi India).

Persaingannya ketat dan para siswa sering ikut pelatihan intensif sebelum ujian masuk. Sayangnya, tidak ada sekolah pelatihan yang mau menerima Srikanth.

"Saya diberitahu oleh lembaga pelatihan terkemuka bahwa beban kursusnya akan seperti hujan lebat pada pohon kecil," katanya, saat menjelaskan bahwa mereka menganggap dia tidak akan memenuhi standar akademik.

"Tapi saya tidak menyesal. Jika IIT tidak menginginkan saya, saya juga tidak menginginkan IIT," kata Srikanth.

Dia lalu mendaftar ke sejumlah universitas di Amerika Serikat dan menerima lima tawaran. Dia memilih MIT di Cambridge, Massachusetts, di mana dia menjadi siswa tunanetra internasional pertama.

Dia mulai kuliah pada tahun 2009. Dia pun merasakan pengalaman yang campur aduk.

"Dingin yang ekstrem adalah kejutan pertama karena saya tidak terbiasa dengan cuaca dingin seperti itu. Makanannya berbau dan rasanya berbeda. Yang saya makan selama bulan pertama hanyalah kentang goreng dan ayam goreng," katanya.

Namun setelah itu dia mulai beradaptasi.

"Waktu di MIT adalah periode terindah dalam hidup saya. Dalam hal kekakuan akademis, itu memang sulit dan mengerikan. Tapi layanan disabilitas mereka bekerja dengan baik dalam mendukung, mengakomodasi, dan mempercepat saya," katanya.

Saat berkuliah, dia juga membuat organisasi nirlaba, Samanvai Center for Children with Multiple Disabilities, untuk melatih dan mendidik penyandang disabilitas muda di Hyderabad.

Dia juga membuka perpustakaan Braille di sana dengan uang yang dia kumpulkan. Hidupnya berjalan dengan baik. 

Dia lulus dari MIT dalam ilmu manajemen dan ditawari beberapa pekerjaan, tetapi dia memilih untuk tidak tinggal di Amerika Serikat.

 Pengalaman kuliah Srikanth itu telah meninggalkan bekas. Dia merasa seperti memiliki urusan yang belum selesai di negara asalnya.

"Saya harus berjuang keras untuk segala hal dalam hidup, sedangkan tidak semua orang bisa bertarung seperti saya atau memiliki mentor seperti saya," katanya.

Dia mengaku begitu melihat gambaran yang lebih besar. Dia menyadari bahwa tidak ada gunanya memperjuangkan pendidikan yang adil jika tidak ada kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas sesudahnya.

"Mengapa saya tidak memulai perusahaan saya sendiri dan mempekerjakan penyandang disabilitas," katanya.

Hingga akhirnya dia kembali ke Hyderabad pada 2012 dan mendirikan Bollant Industries.

Editor: Umaya Khusniah

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut