Pulang dari Pengasingan, Wapres Afghanistan Dostum Disambut Bom
KABUL, iNews.id - Ledakan keras terjadi di dekat Bandara internasional Kabul, Afghanistan, Minggu (22/7/2018), setelah Wakil Presiden Abdul Rashid Dostum tiba. Dostum pulang ke Afghanistan setelah berada di pengasingan di Turki selama lebih dari satu tahun.
Ledakan tersebut menyebabkan beberapa korban luka. Kedatangan Dostum disambut sangat meriah oleh ribuan pendukung, termasuk pejabat pemerintahan.
Dilaporkan AFP, ledakan terjadi tak lama setelah Dostum meninggalkan bandara. Selain pendukung dan pejabat, turut menyambut pria dari etnis Uzbek itu kalangan pimpinan partai politik.
Juru Bicara Dostum, Bashir Ahmad Tayanj, mengatakan, atasannya menggunakan kendaraan antipeluru sehingga selamat dalam serangan itu.
"Ledakan kemungkinan disebabkan aksi bom bunuh diri," kata juru bicara kementerian dalam negeri, Najib Danish.
Dostum, yang dituduh terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia di Afghanistan, disambut bak selebritis saat dia meninggalkan pesawat sewaan dari Turki. Bahkan para pendukung sudah menantinya dan menggelar aksi unjuk rasa jauh hari sebelum dia tiba.
Ribuan pendukungnya turun ke jalan sejak beberapa pekan lalu dengan menutup kantor pemerintah dan memblokir jalan. Mereka meminta agar Dostum dipulangkan.
Sebelumnya mereka sempat menganggap isu kepulangan Dostum hanya sebagai upaya pemerintah untuk memadamkan kerusuhan dengan pengunjuk rasa. Pada pendukung bersumpah tetap menggelar unjuk rasa hari ini.
"Kami tidak memercayai pemerintah. Kami akan melanjutkan demonstrasi kecuali Jenderal Dostum memerintahkan untuk berhenti," kata Ehsanullah Qowanch, seorang pemimpin demonstran, di provinsi Faryab.
Pengunjuk rasa lain, Massoud Khan, mengatakan, "Kami berada di jalanan selama 20 hari sampai sekarang. Kami tidak akan menghentikan protes kami kecuali tuntutan kami dipenuhi."
Kepulangan Dostum dianggap sebagai ancaman bangkitnya kelompok tradisional di Afghanistan. Namun di sisi lain, Presiden Ashraf Ghani membutuhkan Dostum untuk meredakan konflik dan menghindari bentrokan dengan pendukungnya jelang pemilu.
Editor: Anton Suhartono