Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Media AS Ungkap Israel Berencana Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen Iran
Advertisement . Scroll to see content

Puluhan Warga Iran Dilarang Masuk dan Diinterogasi Berjam-jam di Perbatasan AS

Selasa, 07 Januari 2020 - 08:14:00 WIB
Puluhan Warga Iran Dilarang Masuk dan Diinterogasi Berjam-jam di Perbatasan AS
Mobil patroli di perbatasan AS dan Kanada. (FOTO: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

LOS ANGELES, iNews.id - Puluhan warga Iran dan Iran-Amerika Serikat (AS) melaporkan dilecehkan atau diinterogasi selama berjam-jam di perbatasan AS, menyusul meningkatnya ketegangan terkait pembunuhan terhadap Jenderal Iran Qasem Soleimani.

Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), sebuah kelompok advokasi Muslim, menyatakan memberikan bantuan kepada lebih dari 60 orang yang ditahan lama pada akhir pekan. Pandangan politik mereka dipertanyakan di perbatasan negara bagian Washington dan Kanada.

Banyak dari mereka dilaporkan ditolak masuk ke AS karena kurangnya kapasitas Custom and Border Patrol (CBP) untuk menahan mereka.

Seorang warga berusia 24 tahun yang hanya diidentifikasi sebagai Crystal oleh CAIR menyatakan, dia ditahan dan diinterogasi selama lebih dari 10 jam dengan keluarganya di Peace Arch Border Crossing di Blaine, Washington, sebelum dibebaskan Minggu pagi.

Dia mengatakan ketika keluarga bertanya mengapa mereka ditahan, agen CBP berkata, "Ini waktu yang salah untuk kalian."

"Laporan-laporan ini sangat menyusahkan dan berpotensi merupakan penahanan ilegal terhadap warga Amerika Serikat," kata Masih Fouladi, direktur eksekutif CAIR Washington.

"Kami sedang berupaya memverifikasi laporan tentang arahan nasional yang luas untuk menahan warga Iran-Amerika di pelabuhan masuk sehingga kami dapat memberikan panduan perjalanan yang akurat kepada anggota masyarakat."

Namun, pejabat CBP membantah laporan itu. Mereka mengatakan bahwa penundaan lama di perbatasan disebabkan oleh peningkatan lalu lintas karena musim liburan dan kekurangan staf untuk memproses wisatawan.

Mereka juga bersikeras bahwa agensi itu tidak melakukan diskriminasi berdasarkan agama, ras, atau etnis.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut