Respons AS, Presiden Putin: Rusia Terpaksa Kerahkan Rudal

Anton Suhartono · Rabu, 20 Februari 2019 - 19:35 WIB
Respons AS, Presiden Putin: Rusia Terpaksa Kerahkan Rudal

Vladimir Putin (Foto: AFP)

MOSKOW, iNews.id - Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan mengerahkan rudal untuk ditargetkan ke pusat-pusat pengambilan keputusan jika Amerika Serikat (AS) benar-benar mengirim misil ke Eropa.

Pernyataan itu disampaikan Putin terkait keputusan AS menarik diri dari kesepakatan kontrol pengembangan dan penggunaan rudal jarak menengah (INF) pada awal Februari lalu. Kesepakatan itu diteken oleh Presiden Ronald Reagen dan Mikhail Gorbachev di akhir era Perang Dingin atau pada 1987.

Baca Juga: AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian Rudal dengan Rusia

"Rusia tidak ingin menjadi yang pertama meluncurkan rudal semacam itu di Eropa. Jika (AS) mengembangkan dan menyebarkan rudal-rudal itu di Eropa, ini akan memperburuk situasi keamanan internasional secara dramatis, menciptakan ancaman serius bagi Rusia," kata Putin, dalam pidato kenegaraan tahunan, dikutip dari AFP, Rabu (20/2/2019).

"Saya mengatakan ini dengan jelas dan terbuka, Rusia terpaksa mengerahkan senjata yang dapat digunakan, melawan pusat pengambilan keputusan yang berada di belakang sistem rudal yang mengancam kita," kata dia lagi.

Sebelumnya, Putin menyebut alasan AS keluar dari kesepakatan INF dibuat-buat. Presiden AS Donald Trump mengatakan, Rusia lebih dulu melanggar INF dengan menguji coba rudal-rudal baru, namun hal itu dibantah.

Menurut Putin, AS mencari alasan sendiri karena ingin benar-benar keluar.

Baca Juga: Trump Beri Sinyal Perlombaan Senjata AS dan Rusia di Depan Mata

"Kondisi saat ini tentu saja menimbulkan pertanyaan. Mitra kami Amerika seharusnya jujur ​​dan tidak menggunakan tuduhan yang dibuat-buat terhadap Rusia untuk membenarkan penarikan sepihak dari perjanjian ini," kata Putin.

Sebagai respons dari sikap AS itu, Putin juga membawa Rusia keluar dari perjanjian dan siap mengembangkan dan membuat senjata baru.

Para analis pun sepakat keluarnya dua negara adidaya itu dari INF mengisyaratkan dimulainya perlombaan pembuatan persenjataan baru.

Kesepakatan INF diteken pada 1987 untuk menyelesaikan krisis rudal balistik berhulu ledak nuklir Uni Soviet yang ditargetkan ke ibu kota negara-negara Barat. INF berisi larangan untuk memproduksi dan menggunakan rudal jarak menengah dengan jangkauan 500 sampai 5.500 kilometer.


Editor : Anton Suhartono