Rumah Prostitusi dengan Pelayan Robot Wanita Ditentang
HOUSTON, iNews.id - Houston dikenal sebagai salah satu kota dengan jumlah rumah prostitusi terbanyak di Amerika Serikat (AS). Gubernur Negara Bagian Texas Greg Abbott bahkan pernah berkata bahwa rumah prostitusi di Houston lebih banyak dari gerai Starbuck.
Padahal, Houston juga dikenal sebagai kota yang banyak terdapat kafe.
Suburnya bisnis pemuas nafsu di Houston membuat perusahaan asal Kanada, Kinky S Dolls, melirik kota itu sebagai pasar potensialnya.
Kinky S Dolls dikenal lama sebagai produsen robot seks, tidak hanya menjual tapi juga menyewakannya. Di Toronto, perusahaan sudah memulai praktik penyewaan robot bertekonologi kecerdasan artifisial itu untuk melayani pelanggan dengan durasi 30 sampai 60 menit.
Mereka ingin mengulangi sukses di rumah sendiri dengan membuka penyewaan di Houston. Kota itu akan menjadi target pertama Kinky di pasar AS.
Namun upaya Kinky untuk melakukan ekspansi bisnis di AS ditentang kelompok anti-perdagangan seks dan anti pornografi gereja. Wali Kota Sylvester Turner juga ikut menentangnya.
"Ini bukan jenis bisnis yang saya inginkan di Houston," kata Turner, dikutip dari The Guardian, Selasa (2/10/2018).
Sebagai langkah konkret, dia memerintahkan dinas kesehatan dan bagian legal untuk menolak proposal Kinky.
Namun tentangan itu tak menyurutkan langkah Kinky S Dolls. Bahkan, perusahaan akan membuka tempat bisnisnya di Houston dalam waktu dekat.
"Negara bagian merupakan pasar yang lebih besar, dan pasar yang lebih sehat," kata pemilik Kinky S Doll, Yuval Gavriel, kepada The Washington Examiner.
Sebenarnya, tidak ada peraturan di tingkat kota, negara bagian, atau pemerintah pusat, yang melarang robot seks. Namun upaya perlawanan terus dilakukan, salah satunya dilakukan lembaga keagamaan Elijah Rising.
Organisasi itu membuat petisi "Jangan Biarkan Ada Rumah Prostitusi Robot di Houston' sejak Senin (1/10/2018) dan sudah mendapat lebih dari 12.600 tanda tangan.
Anggota Elijah Rising, David Gamboa, mengatakan, keberadaan robot seks bisa mengancam perilaku seksual yang normal pada manusia. Kelamaan, orang tak tertarik lagi berhubungan seks dengan manusia, jika sudah digantikan robot.
“Kami ingin melihat akhir dari masalah sistemik ini. Robot ini terlihat sangat mirip dengan pornografi, di mana ketika pria terlibat dengan pornografi, hal semacam itu akan memisahkan mereka dari segala jenis hubungan manusia, dan kami telah memantau hal ini dari para penjaja seks," kata Gamboa.
Tak hanya dari sisi fisik karena belum ada penelitian yang mengungkap manfaat kesehatan dari berhubungan dengan robot, aktivitas seks dengan 'mesin' ini juga bisa mengacaukan psikologi pelakunya serta kecanduan.
“Kami melihat banyak orang di media sosial mengatakan ini akan menyelesaikan masalah perdagangan seks. Itu bukan sikap kami. Kami benar-benar melihatnya sebagai pendorong laki-laki, atau setidaknya menciptakan kecenderungan pada laki-laki untuk 'membeli' perempuan,” katanya.
Editor: Anton Suhartono