Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pesawat Pengebom Strategis Rusia Tu-95 Jatuh, 6 Kru Tewas
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

CANBERRA, iNews.id - Pihak berwenangan Australia menyatakan perusahaan-perusahaan di negaranya menjadi korban serangan siber yang diduga dilakukan oleh Rusia. Serangan tersebut menargetkan jutaan komputer di seluruh dunia.

Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Australia menuduh para peretas yang didukung Pemerintah Rusia menyerang router komputer di seluruh dunia melalui spionase dunia maya, yang menargetkan lembaga pemerintah, bisnis, dan operator infrastruktur.

Pusat Keamanan Siber Australia sudah menginformasikan perusahaan-perusahaan yang didiga menjadi korban serangan tersebut.

Di Australia, ratusan perusahaan menjadi korban serangan siber pada 2017. Serangan ini menargetkan router yang merupakan bagian penting dari infrastruktur internet.

Menteri Urusan Keamanan Siber Australia Angus Taylor mengatakan sejumlah besar lembaga di Australia terkena serangan ini.

"Router yang tersedia secara komersial digunakan sebagai titik masuk. Ini menunjukkan setiap perangkat yang terhubung sangat rentan terhadap aktivitas berbahaya," kata Taylor, seperti dilansir Australia Plus ABC, Selasa (17/4/2018).

"Upaya Rusia ini menjadi peringatan bahwa perusahaan dan individu Australia terus-menerus menjadi sasaran aktor jahat, baik negara maupun non-negara. Kita harus mempertahankan praktik keamanan siber yang ketat," ujar dia, menambahkan.

Para pejabat AS dan Inggris mengeluarkan peringatan bersama terkait hal ini. Target utama dari penyerangan ini merupakan organisasi pemerintahan dan swasta; penyedia infrastruktur penting; serta penyedia layanan internet yang mendukung sektor-sektor ini.

"Secara khusus, eksploitasi siber ini diarahkan pada perangkat infrastruktur jaringan di seluruh dunia seperti router, switch, firewall, dan Network Intrusion Detection System (NIDS). Vendor perangkat jaringan, ISP, organisasi sektor publik, perusahaan swasta dan kantor kecil atau kantor rumahan harus membaca peringatan (TA18-106A) dan mengikuti strategi mitigasi yang direkomendasikan," demikian isi pernyataan tersebut.

Laporan itu menuduh aktor yang disponsori Rusia menggunakan router untuk mendukung spionase, mengambil properti intelektual, dan mempertahankan akses ke jaringan milik korbannya.

Wakil asisten direktur FBI, Howard Marshall mengatakan, serangan itu adalah bagian dari pola berulang yang dilakukan Pemerintah Rusia.

Secara terpisah, Pemerintah AS dan Inggris menyatakan akan memberikan rincian teknis terkait serangan ini agar lembaga yang diduga menjadi korban dapat menyelidiki apakah mereka diretas. Hal ini juga supaya perusahaan-perusahaan bisa mencegah upaya yang sama di masa depan.

Para pejabat AS dan Inggris menyebut router yang terinfeksi dapat digunakan untuk meluncurkan operasi siber ofensif di masa depan.

Gedung Putih pada Februari lalu menyalahkan Rusia atas serangan "NotPetya" pada 2017 dan bersama Inggris mengutuk Rusia karena melepaskan virus yang melumpuhkan sejumlah infrastruktur Ukraina dan merusak komputer di berbagai negara.

Badan-badan intelijen AS juga menyimpulkan Rusia ikut campur dalam kampanye Pilpres AS 2016 namun Rusia membantah tuduhan tersebut.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut