MOSKOW, iNews.id - Sistem pertahanan rudal Patriot dan Aegis buatan Amerika Serikat (AS) menjadi bahan ejekan militer Rusia setelah gagal melindungi kilang minyak Arab Saudi dari serangan drone dan rudal jelajah Sabtu pekan lalu.
Pejabat berpangkat tinggi militer Rusia mengatakan, kegagalan itu membuktikan bahwa senjata pertahanan Amerika tidak seperti yang diiklankan AS.
Aneh! AS-Israel Klaim Telah Hancurkan Kemampuan Rudal Iran, tapi Teheran Terus Tembakkan Misil
Menurut pejabat tersebut, Saudi membangun sistem pertahanan udara paling kuat di kawasan Timur Tengah dengan mengambil manfaat persenjataan AS, yang menyediakan cakupan radar berskala penuh.
Namun, lanjut dia, efisiensi senjata pertahanan AS dipertanyakan.
Lebih lanjut, sumber militer itu mengatakan, saat ini ada 88 peluncur sistem rudal Patriot—52 di antaranya adalah versi terbaru PAC-3—yang melindungi perbatasan utara Arab Saudi. Selain itu, Saudi juga dilindungi tiga sistem penghancur rudal berpemandu dan 100 rudal SM-2.
Kendati demikian, dia mempertanyakan efisiensi dari berbagai senjata pertahanan AS itu ketika dilibatkan dalam kehidupan nyata.
"Sistem pertahanan udara Patriot dan Aegis tidak cocok dengan properti yang diiklankan—mereka tidak efisien terhadap target udara ukuran kecil dan rudal jelajah," ujar sumber militer Rusia itu, seperti dikutip Russia Today, Kamis (19/9/2019).
"Mereka sama sekali tidak dapat mengusir serangan musuh yang melibatkan penggunaan besar-besaran senjata layak terbang dalam pertempuran nyata," ujarnya.
Komentar itu muncul ketika media-media internasional berjuang untuk mencari tahu mengapa militer Kerajaan Arab Saudi tidak dapat melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan serangan udara terhadap kilang minyak di Abqaiq dan Khurais.
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Michael Richard Pompeo mencoba mencari alasan atas kegagalan sistem pertahanan rudal Patriot dalam melindungi kilang minyak Aramco Arab Saudi.
"Kami melihat sistem pertahanan udara di seluruh dunia memiliki keberhasilan yang beragam," kata Pompeo, seperti disampaikan Departemen Luar Negeri AS.
"Beberapa (sistem pertahanan rudal) yang terbaik di dunia tidak selalu menunjukkan hasil yang diinginkan. Kami ingin bekerja untuk memastikan bahwa infrastruktur dan sumber daya ditempatkan sedemikian rupa sehingga serangan seperti itu akan kurang berhasil daripada yang tampaknya terjadi," imbuh Pompeo.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyimpulkan serangan besar-besaran itu dilakukan dengan 25 pesawat nirawak atau drone dan rudal jelajah.
"Serangan itu diluncurkan dari utara dan disponsori oleh Iran. Kami sedang bekerja untuk mengetahui titik peluncuran yang tepat," kata juru bicara kementerian, Kolonel Turki Al Maliki.
"Bukan berasal dari Yaman, meskipun upaya terbaik Iran untuk membuatnya tampak begitu," ujarnya.
Dia juga menambahkan, drone yang digunakan dalam serangan itu berada di luar jangkauan drone yang digunakan oleh kelompok pemberontak Houthi Yaman.
Editor: Nathania Riris Michico