MOSKOW, iNews.id – Rusia menilai Taliban berisiko kehilangan kekuasaan di Afghanistan jika kelompok itu tidak memenuhi kewajiban mereka terkait pembentukan pemerintahan yang inklusif. Menurut Moskow, Taliban harus mampu memberi ruang politik bagi berbagai etnik yang hidup di Afghanistan.
“Inklusivitas politik etnik diperlukan. Mereka (Taliban) mungkin kehilangan kekuasaan dalam waktu dekat jika mereka terus bertindak seperti itu (menjadi wadah bagi etnik tertentu saja). Mereka harus memastikan inklusivitas,” kata Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, kepada Sputnik, Jumat (17/12/2021).
Cegah Invasi AS, Iran Siap Berkompromi untuk Capai Kesepakatan Nuklir
“Omong-omong, kami mengatakan ini tanpa ultimatum, dengan tenang, jadi lakukan saja. Mereka (Taliban) harus melakukan (inklusivitas politik) itu,” kata Kabulov.
Semua menteri dalam kabinet interim Taliban adalah laki-laki, dan hampir semuanya adalah orang-orang Pashtun—kelompok etnik yang mendominasi jantung Afghanistan Selatan yang menjadi basis gerakan Taliban. Suku Pashtun berjumlah 38,5 persen dari total penduduk Afghanistan.
Taliban Ingin Menjalin Hubungan dengan Negara-Negara Bekas Musuh, Termasuk AS
Kabulev menambahkan, jika Taliban mulai membuat konsesi terkait pembentukan pemerintah yang mencakupi keragaman etnik di Afghanistan, aset negara itu akan segera dicairkan. Dengan begitu, ketersediaan dana akan membuat Taliban lebih mudah untuk mengatur negara.
Taliban Pakistan Akhiri Gencatan Senjata, Tuduh Pemerintah Langgar Perjanjian
Kabulov mencatat, aset Afghanistan yang dibekukan di negara-negara Barat bukanlah dana Taliban, tetapi sumber daya milik rakyat Afghanistan. Karenanya, dia pun mengingatkan, ada tanggung jawab besar negara-negara Barat atas merosotnya situasi ekonomi dan kemanusiaan di Afghanistan saat ini.
Dia menegaskan, Rusia tidak berniat menjual senjata kepada Taliban.
Editor: Ahmad Islamy Jamil