Salut, Sejumlah Perempan Ukraina Pergi ke Kosovo Ikuti Latihan Jinakkan Ranjau Darat
KIEV, iNews.id - Sejumlah perempuan Ukraina berlatih mengidetifikasasi dan menjinakkan bahan peledak atau ranjau darat di Kosovo. Training digelar selama 18 belas hari di Kota Peja.
Salah satu perempuan yang mengikuti latihan itu yakni Anastasiia Minchukova (20). Guru Bahasa Inggris itu dan lima perempuan lainnya mengenakan pelindung wajah dan dibekali detektor ranjau darat saat training.
Sebagai bentuk latihan, mereka menjelajah lapangan yang telah dipenuhi peringatan bahaya ranjau darat.
Diyakini, perang Rusia-Ukraina segera berakhir. Maka dari itu, besar kemungkinan masih akan ada banyak ranjau darat yang tersisa di Ukraina.
Presiden Zelensky: Pasukan Militer Rusia Mundur tapi Tinggalkan Ranjau Darat
Ranjau-ranjau ini masih sangat berbahaya. Maka dari itu, mereka perlu segera dibersihkan dan dijinakkan.
"Kami percaya ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan," katanya.
Ngeri, Tentara Ukraina dengan Tenang Singkirkan Ranjau Darat Rusia Cuma Pakai Kaki
Dengan pria Ukraina berusia 18-60 tahun dilarang meninggalkan negara mereka dan sebagian besar terlibat perang, para perempuan ingin membantu dengan cara apa pun yang mereka bisa termasuk terlibat dalam pembersihan ranjau.
"Ini berbahaya di seluruh Ukraina, bahkan jika Anda berada di wilayah yang relatif aman," kata Minchukova, yang berasal dari Ukraina tengah.
Kosovo merupakan lokasi konflik bersenjata pada 1998-1999 antara separatis etnis Albania dan pasukan Serbia yang menewaskan sekitar 13.000 orang. Ribuan ranjau yang belum meledak tersebar dan perlu dibersihkan.
Instruktur training, Artur Tigani mengatakan telah menyesuaikan kurikulum agar dibuat semirip mungkin dengan lingkungan Ukraina. Dia pun mengaku senang berbagi pengalaman dengan para perempuan Ukraina.
"Meskipun 23 tahun telah berlalu, itu masih segar dalam ingatan kami, kesulitan yang kami temui ketika mulai pembersihan di Kosovo," kata Tigani.
Tigani merupakan perwira operasi pekerjaan ranjau yang sangat terlatih dan berpengalaman yang bertugas sebagai insinyur di bekas tentara Yugoslavia selama tahun 1980-an. Dia telah ditempatkan di negara asalnya Kosovo, Sri Lanka, Uganda, Kongo, Rwanda dan Kenya, dan melakukan misi pelatihan di Suriah, dan Irak.
Selama kelas minggu lalu, dia membawa peserta pelatihannya melalui ladang ranjau darurat sebelum pindah ke kelas luar ruang yang menampilkan papan besar dengan berbagai sampel bahan peledak dan ranjau.
Dia mengatakan, meskipun tidak mungkin untuk menilai seberapa penuh ranjau dan mana yang belum meledak di Ukraina saat ini, dampak dari konflik lain menunjukkan masalahnya akan sangat besar.
“Di banyak bagian dunia, sisa-sisa ledakan perang terus membunuh dan melukai ribuan warga sipil setiap tahun setelah permusuhan aktif berakhir. Mayoritas korban adalah anak-anak,” Komite Internasional Palang Merah bersaksi pada konferensi PBB bulan Desember.
Editor: Umaya Khusniah