Serukan Penyelidikan, Sekjen PBB: Penggunaan Senjata Kimia Kejam
NEW YORK, iNews.id - Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan agar para penyelidik independen internasional diberi akses seluas-luasnya untuk memeriksa penggunaan senjata kimia di Suriah. Serangan pasukan Suriah yang didukung Rusia, Iran, dan militan Hezbollah dari Lebanon, ke Douma, Ghouta Timur, pada Sabtu pekan lalu menewaskan sedikitnya 70 orang.
"Penggunaan senjata kimia oleh pihak mana pun yang terlibat konflik ini dan dalam kondisi apa pun adalah kejam dan melanggar hukum internasional," kata Guterres, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Selasa (10/4/2018).
Menurut dia, dari tingkat keseriusan kasus ini, penyelidikan penggunaan senjata kimia di Suriah memerlukan penyelidik ahli yang tak memihak, independen, serta profesional.
Guterres juga menegaskan dukungan penuh bagi Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) dan tim pencari fakta untuk mengungkap dugaan pelanggaran ini. Dia menekankan, petugas OPWC harus diberi akses penuh, tanpa batasan atau hambatan, dalam melakukan aktivitasnya.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya membuka kemungkinan pendekatan militer terhadap Suriah.
"Kami punya banyak pilihan militer," kata Trump.
Bahkan Trump menegaskan, opsi militer bisa saja dieksekusi secepatnya. Apalagi, dia mengaku sudah mendapat titik terang mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kecaman keras juga disampaikan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang menyebut serangan menggunakan senjata kimia merupakan perilaku barbar. Dia pun mendesak pihak yang mendukung serangan menggunakan senjata kimia bertanggung jawab. Pernyataan May itu merujuk pada Rusia selaku pihak yang membantu rezim Bashar Al Assad memborbardir warga sipil di Douma.
Rusia, sekutu utama Suriah, yang sebelumnya menolak usulan AS untuk dilakukannya penyelidikan di Suriah, akhirnya melunak. Rusia akan mengajukan resolusi PBB untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia tersebut.
Editor: Anton Suhartono