Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Pembangunan 10 Kampus Kerja Sama RI-Inggris
Advertisement . Scroll to see content

Siuman setelah 6 Hari Koma karena Corona, Perempuan Ini Melihat 'Alien'

Kamis, 23 April 2020 - 07:04:00 WIB
Siuman setelah 6 Hari Koma karena Corona, Perempuan Ini Melihat 'Alien'
Ruth Andrew saat dirawat di Rumah Sakit Conquest di Hastings, Sussex Timur, Inggris. (Foto: Triangle News)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.id – Seorang perempuan di Inggris harus koma selama berhari-hari setelah terjangkit virus corona (Covid-19). Begitu siuman, dia menyangka para tenaga medis di rumah sakit tempatnya dirawat adalah alien.

Perempuan bernama Ruth Andrew itu enam hari tak sadarkan diri. Saat pertama kali terbangun dari koma, Ruth melihat para staf rumah sakit mengenakan jas hazmat lengkap dengan alat pelindung diri (APD) lain—seakan-akan mirip karakter fiktif di film-film bertema luar angkasa—sebelum akhirnya dia menyadari sedang berada dalam ruangan perawatan intensif (ICU).

Warga Kota St Leonards di Hastings, Sussex Timur, Inggris itu pada satu titik merasa sudah dekat dengan kematian. Bahkan, dia sempat ingin berpamitan dengan suaminya, Craig, dan anak-anak mereka Imogen (14) dan Daniel (10).

Ketika Ruth melihat empat pasien lain meninggal, perempuan itu pun bertanya kepada perawat apakah giliran dia yang berikutnya. Namun, syukurlah, Ruth justru kini menjadi pasien corona pertama yang dikeluarkan dari ruangan ICU di Rumah Sakit Conquest di Hastings.

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai pegawai negeri itu juga diberi tahu bahwa dia mengidap radang paru-paru. Dia pun merasa sangat berutang budi kepada para “alien” yang merawatnya selama koma.

“Rasanya tak akan pernah bisa aku membalas jasa para perawat itu. Aku bahkan bisa melihat beberapa dari mereka hampir pingsan karena harus selalu mengenakan APD saat bertugas,” tutur ibu berusia 36 tahun itu dikutip Mirror, Rabu (22/4/2020).

“Tapi mereka tidak pernah ribut dan mengeluh. Aku hanya berpikir ‘ya ampun, mereka melakukan semua ini untuk kita’. Mereka tidak hanya memberikan dukungan medis tetapi juga dukungan kemanusiaan, pribadi, dan emosional yang Anda butuhkan,” ungkap Ruth.

Dia menuturkan, para staf rumah sakit juga berbaris untuk memberikan tepuk tangan ketika dia cukup sehat untuk dipulangkan.

“Aku bertanya kepada mereka beberapa kali, apakah aku sekarat dan mereka meluangkan waktu untuk duduk bersamaku. Mereka meyakinkanku bahwa aku baik-baik saja, memberikan pujian kepadaku (untuk membangun semangat). Seharusnya akulah yang memuji mereka. Mereka adalah pahlawan,” ucapnya.

Ruth pertama kali jatuh sakit pada 17 Maret lalu, ketika dia mulai batuk-batuk. Setelah dipulangkan dari kantornya di Departemen Ketenagakerjaan dan Urusan Pensiun, dia terserang demam dan mulai mengasingkan diri di rumah.

Tetapi seminggu kemudian napasnya menjadi sangat buruk sehingga suaminya yang cemas menelepon nomor darurat. “Craig mengatakan saya mengi dan sepertinya saya mengalami serangan asma,” katanya.

“Aku tidak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anakku yang tidur ketika ambulans datang. Aku benar-benar kaget,” kenangnya saat menceritakan pertama kali dilarikan ke rumah sakit.

Dia dirawat di ruangan ICU setelah dinyatakan positif Covid-19. Beberapa jam kemudian, staf rumah sakit mengatakan kepadanya bahwa mereka harus membuatnya berada dalam keadaan koma. Sebelum mengambil tindakan itu, pihak rumah sakit memberi kesempatan kepada Ruth untuk menelepon keluarga.

“Aku menelepon Craig. Tetapi dia tidak menjawab, sehingga aku harus meminta dokter untuk mengatakan padanya bahwa aku mencintainya dan anak-anak,” ucap Ruth.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut