Sosok Yasser Abu Shabab, Pemimpin Milisi Gaza Antek Israel yang Tewas Ditembak
JAKARTA, iNews.id - Yasser Abu Shabab, seorang tokoh milisi yang namanya melejit di tengah kekacauan perang Gaza, tewas ditembak pada Kamis (4/12/2025). Bukannya ditangisi, kematiannya menjadi kabar gembira bagi sebagian besar warga Gaza.
Kematian pemimpin milisi Popular Forces itu mengakhiri perjalanan sosok yang selama ini dipandang kontroversial, dianggap pahlawan oleh sekelompok kecil, namun dipandang sebagai antek atau boneka Israel dan geng kriminal oleh sebagian besar warga Gaza.
Dari Klan Badui hingga Rekam Jejak Kriminal
Abu Shabab berasal dari suku Badui Tarabin di kawasan selatan Jalur Gaza. Sebelum perang pecah, dia bukan figur publik yang dikenal luas. Justru rekam jejak kriminal lebih dulu melekat padanya.
Trump: Gencatan Senjata Gaza Tahap II Segera Berlangsung
Dia pernah menjalani hukuman penjara dalam kasus narkoba, sebelum akhirnya melarikan diri seiring kekacauan yang terjadi pada masa perang ketika fasilitas penahanan banyak yang tak lagi berfungsi.
Meski memiliki reputasi buruk, Abu Shabab memanfaatkan situasi ketika struktur keamanan Gaza hancur. Di tengah kekosongan otoritas, dia membangun kekuatan bersenjata sendiri dan kemudian muncul sebagai tokoh yang mengklaim ingin menjaga keamanan dan ketertiban.
Israel Bom Tenda Pengungsi Gaza, Hamas: Pelanggaran Gencatan Senjata yang Nyata!
Munculnya Popular Forces, Milisi Anti-Hamas yang Didukung Israel
Di tahun-tahun terakhir konflik, Abu Shabab membentuk kelompok bersenjata yang awalnya dikenal sebagai Anti-Terror Service, lalu berevolusi menjadi Popular Forces. Walau kecil, diperkirakan beranggotakan ratusan orang, milisi ini beroperasi terutama di wilayah Gaza yang berada di bawah kontrol militer Israel.
Menurut berbagai laporan, Israel memberikan perlindungan hingga pasokan senjata kepada kelompok ini sebagai bagian dari strategi membentuk faksi lokal yang mampu menyaingi Hamas. Netanyahu bahkan pernah mengakui penggunaan kelompok-kelompok lokal semacam ini sebagai upaya mengurangi risiko bagi pasukan Israel.
Abu Shabab pun tampil sebagai figur yang mencoba memosisikan diri sebagai alternatif baru bagi Gaza pasca-Hamas. Dia mengklaim ingin menjaga distribusi bantuan kemanusiaan dan menstabilkan keamanan lokal.
Kontroversi dan Tuduhan Penjarahan Bantuan
Meski klaimnya terdengar idealis, reputasi Abu Shabab justru dipenuhi tuduhan kriminal baru. Dia dan pasukannya dituding melakukan penjarahan besar-besaran terhadap bantuan kemanusiaan internasional, menguasai jalur distribusi, hingga menjualnya kembali di pasar gelap.
Sebuah memo internal dari lembaga PBB bahkan menyebut bahwa kelompoknya menjadi salah satu aktor utama di balik penjarahan bantuan secara sistematis di Gaza. Banyak warga, termasuk dari suku Tarabin sendiri, menolak kiprahnya. Mereka menilai Abu Shabab bukan pejuang, melainkan kriminal yang memanfaatkan kekacauan.
Di mata Hamas, Abu Shabab dianggap kolaborator dan pernah menjadi target penangkapan.
Tewas dalam Konflik Antar-Kelompok Bersenjata
Popular Forces mengumumkan Abu Shabab tewas tertembak dalam bentrokan bersenjata. Laporan awal menyebut peristiwa itu terjadi akibat konflik internal antarklan, khususnya antara Abu Shabab dan keluarga Abu Suneima. Kelompoknya menyatakan bahwa dia sedang menengahi perselisihan ketika tembakan terjadi.
Milisinya membantah Hamas berada di balik serangan tersebut. Namun bagi banyak warga Gaza, penyebab kematiannya tidak lagi menjadi perhatian, reputasi buruknya membuat kabar itu justru disambut sebagai berakhirnya satu bab gelap dalam krisis kemanusiaan Gaza.
Kematian yang Mengubah Peta Konflik Lokal
Bagi Israel, kematian Abu Shabab menjadi pukulan terhadap strategi membentuk kekuatan lokal alternatif untuk menyaingi Hamas. Sementara bagi masyarakat Gaza, kematiannya lebih dilihat sebagai runtuhnya kelompok yang selama ini menimbulkan ketegangan, penjarahan, dan kekerasan.
Abu Shabab menjadi contoh nyata bagaimana kekosongan otoritas di wilayah konflik dapat melahirkan aktor-aktor baru yang bersenjata, namun tanpa legitimasi dari rakyat. Upayanya memosisikan diri sebagai kekuatan politik baru tak pernah berhasil, dan kematiannya menunjukkan rapuhnya milisi semacam itu ketika tidak memiliki dukungan masyarakat.
Editor: Anton Suhartono