Starlink Sulit Masuk India, Elon Musk Sindir Bos Reliance Mukesh Ambani
CALIFORNIA, iNews.id - Elon Musk mempertanyakan apakah miliarder Mukesh Ambani merupakan pemimpin sebenarnya India di tengah belum tuntasnya proses perizinan layanan internet satelitStarlink untuk beroperasi di negara tersebut.
Pernyataan ini muncul sehari setelah Musk menuding sejumlah pengusaha berpengaruh berupaya menghalangi masuknya Starlink ke India. Dia kemudian secara khusus menyebut Ambani, pemilik konglomerasi Reliance yang menaungi Jio, operator jaringan seluler terbesar di India.
Melansir BBC, Pemerintah India menolak tudingan Musk. Kementerian Komunikasi India menyatakan aturan komunikasi satelit yang berlaku di negara tersebut bersifat adil dan tidak diskriminatif.
Sementara itu, Ambani dan Reliance Group belum memberikan tanggapan atas pernyataan Musk.
Perseteruan ini terjadi ketika persaingan di pasar internet satelit India semakin ketat. Reliance Jio dan Bharti Airtel juga tengah mempersiapkan peluncuran layanan serupa.
Persaingan ini menjadi menarik karena Starlink justru telah menjalin kemitraan dengan Reliance Jio dan Bharti Airtel. Pada Maret 2025, kedua perusahaan menandatangani kesepakatan dengan SpaceX untuk mendistribusikan perangkat dan layanan Starlink di India, dengan tetap menunggu persetujuan pemerintah.
Kedua perusahaan juga menyatakan terbuka untuk menjajaki kemungkinan berbagi infrastruktur jaringan. BBC turut menghubungi Bharti Airtel untuk meminta tanggapan terkait persoalan ini.
Musk pertama kali melontarkan tudingannya pada Rabu lalu. Dia menuduh sejumlah 'oligarki tertentu' mempertahankan cengkeraman monopoli terhadap konsumen India dan menyebut upaya menghalangi Starlink sebagai kejahatan terhadap rakyat India.
"Kalian bisa menebak siapa mereka," tulis Musk di platform X.
Pada Kamis, Kementerian Komunikasi India merespons tudingan tersebut. Pemerintah menyatakan tiga operator, yakni Starlink, Eutelsat OneWeb, dan Jio Satellite Communications, berada pada tahap proses persetujuan yang secara umum serupa.
Ketiganya masih menunggu izin keamanan dan alokasi spektrum frekuensi sebelum dapat meluncurkan layanan komersial.
"Anggapan bahwa kerangka aturan atau penerapannya tidak adil maupun diskriminatif tidak berdasar dan keliru," kata kementerian tersebut tanpa menyebut nama Musk secara langsung.
Musk tetap mempertanyakan lambatnya proses perizinan. Dia menyatakan Starlink telah mengantongi izin beroperasi di lebih dari 165 negara.
"Starlink telah mendapatkan izin di lebih dari 165 negara dan menghabiskan waktu lima tahun untuk mematuhi setiap undang-undang dan persyaratan pemerintah India. Jadi, mengapa masih belum mendapat izin? Apakah Ambani bos sebenarnya India?" tulis Musk di X pada Kamis.
Starlink merupakan layanan internet satelit milik SpaceX, perusahaan yang dipimpin Musk. Layanan ini menggunakan satelit di orbit rendah Bumi untuk menyediakan akses internet, terutama di daerah terpencil yang sulit atau mahal dijangkau jaringan seluler dan kabel broadband.
Starlink telah berupaya memasuki pasar India sejak 2021 dan berhasil memperoleh sejumlah izin penting. Namun, perusahaan tersebut masih membutuhkan persetujuan keamanan final serta alokasi spektrum frekuensi sebelum dapat memulai layanan komersial.
Perseteruan Musk berlangsung ketika para eksekutif Starlink, Reliance Jio, dan Bharti Airtel menghadiri India Mobile Congress di New Delhi. Dalam acara tersebut, ketiga perusahaan membahas rencana mereka mengembangkan layanan internet satelit.
Ketua Reliance Jio Infocomm, Akash Ambani, putra Mukesh Ambani, mengatakan perusahaannya sedang mengembangkan teknologi komunikasi satelit sendiri dan mengupayakan persetujuan regulator.
Saat ditanya wartawan mengenai tudingan Musk, Akash memilih tidak berkomentar lebih jauh.
"Kami ingin fokus bekerja dan memberikan nilai bagi konsumen India," katanya.
Ketua Bharti Airtel, Sunil Bharti Mittal juga mengatakan bahwa bisnis satelit perusahaannya masih menunggu persetujuan pemerintah.
Sementara itu, Lauren Dreyer, eksekutif SpaceX yang mengawasi operasional bisnis Starlink, menyatakan perusahaan tersebut telah bekerja sama dengan regulator India selama bertahun-tahun. Starlink juga telah membangun sistem pengamanan jaringan untuk memenuhi persyaratan negara itu.
Aspek keamanan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah India terkait rencana masuknya Starlink. Pada 2024, otoritas India menyatakan telah menemukan perangkat Starlink dalam penyelidikan penyelundupan narkoba di Kepulauan Andaman dan Nikobar serta dalam operasi militer di negara bagian Manipur, wilayah timur laut India.
Saat itu, Musk mengatakan layanan Starlink belum pernah aktif di India. Dia menegaskan perangkat yang ditemukan aparat tidak mungkin menggunakan jaringan satelit Starlink.
Selain perizinan, keterjangkauan harga juga menjadi persoalan. India merupakan salah satu pasar internet terbesar di dunia, tetapi akses masih belum merata, terutama di wilayah terpencil yang sulit dijangkau jaringan seluler dan kabel broadband.
Musk berpendapat Starlink dapat membantu mengatasi kesenjangan tersebut.
"Starlink di India akan memungkinkan konektivitas internet berkecepatan tinggi dan terjangkau bagi mereka yang tidak mampu membayar harga saat ini atau bahkan belum memiliki koneksi sama sekali!" tulis Musk di X.
Starlink belum mengumumkan harga layanannya untuk pasar India. Namun, sejumlah pakar menilai harga yang diterapkan di negara lain mengindikasikan layanan tersebut berpotensi berada di luar jangkauan banyak rumah tangga India.
Di Amerika Serikat, paket internet rumah Starlink dimulai dari 55 dolar AS per bulan. Biaya aktual dan harga perangkat dapat berbeda bergantung pada paket serta lokasi pelanggan.
Editor: Aditya Pratama