Survei Ungkap 81% Warga Setuju Perempuan Boleh Menjadi Kaisar Jepang
TOKYO, iNews.id - Hasil survei terbaru di Jepang menunjukkan mayoritas responden setuju perempuan bisa menjadi kaisar. Aturan yang berlaku saat ini, kaisar harus laki-laki. Dibolehkannya perempuan menjadi kaisar bisa menjadi solusi krisis sumber daya yang dihadapi Jepang mengingat jumlah pewaris takhta laki-laki hanya sedikit.
Jumlah pewaris takhta laki-laki saat ini hanya tiga orang, yakni Akishino (53), putra mahkota yang juga adik dari Kaisar Naruhito; Hisahito (13), putra dari Akishino; serta Pangeran Hitachi, paman dari Naruhito (83).
Dikutip dari AFP, Senin (28/10/2019), survei yang diadakan oleh kantor berita Kyodo setelah penobatan Kaisar Naruhito pada 22 Oktober 2019, menyebutkan, sebanyak 81,9 persen responden setuju perempuan dibolehkan menjadi kaisar, melawan 13,5 persen menolak, dan sisanya abstein.
Perdebatan soal diperbolehakannya perempuan naik takhta sudah muncul sejak Akihito, ayah dari Naruhito, menyatakan mundur sebagai kaisar dengan alasan kesehatan pada 2017.
Jika perempuan diperbolehkan naik takhta, maka satu-satunya anak perempuan Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako, yakni Putri Aiko (17), bisa melanjutkan estafet kekaisaran.
Juru bicara pemerintah, Yoshihide Suga, mengatakan, pihaknya sangat hati-hati mempelajari masalah ini.
Tidak hanya perempuan yang tak dibolehkan menjadi pewaris takhta, namun juga anggota kekaisaran yang kehilangan status kebangsawaan karena menikah dengan orang biasa. Anak-anak mereka juga tidak dianggap bagian dari garis kekaisaran.
Sementara ituy kalangan konservatif tetap bersikukuh menentang revisi UU Kekaisaran untuk memungkinkan perempuan naik takhta.
Survei melibatkan 732 rumah tangga yang dipilih secara acak dengan total 1.009 responden.
Hasil survei ini sesuai dengan jajak pendapat beberapa tahun terakhir yang menunjukkan dukungan publik untuk memberikan kesempatan perempuan menjadi kaisar.
Editor: Anton Suhartono