Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Hadapi Amerika, Iran Tak Ingin Konflik tapi Siap Perang
Advertisement . Scroll to see content

Tak Hanya AS dan Prancis, Negara-Negara Ini Bersiap Evakuasi Warganya dari China

Senin, 27 Januari 2020 - 15:48:00 WIB
Tak Hanya AS dan Prancis, Negara-Negara Ini Bersiap Evakuasi Warganya dari China
Prancis, Jepang, dan sejumlah negara lain bersiap mengevakuasi warganya dari Wuhan. (FOTO: Imago Images)
Advertisement . Scroll to see content

NEW YORK, iNews.id - Prancis dan sejumlah negara lain menyatakan tengah bersiap mengevakuasi warganya dari Wuhan, China, yang merupakan pusat penyebaran virus corona jenis baru yang menewaskan setidaknya 80 orang sampai pada Senin (27/1/2020).

Otoritas China menyebut jumlah orang yang terinfeksi virus ini sudah lebih dari 2.700 orang.

China berjuang keras menahan penyebaran virus corona jenis baru ini. Pembatasan perjalanan turut dilakukan sebagai upaya menghentikan penyebaran penyakit menular ini.

Provinsi Hubei di China bagian tengah termasuk Kota Wuhan, telah diisolasi dan berdampak terhadap aktivitas 56 juta penduduknya selama perayaan Tahun Baru Imlek, periode perjalanan tersibuk negara tersebut.

Sampai saat ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari luar China.

Menteri Kesehatan Prancis Agnes Buzyn pada Minggu (26/1/2020) menyatakan warga Prancis juga akan dievakuasi dari wilayah Wuhan.

"Warga Prancis akan dipulangkan dengan pesawat ke Prancis, dengan persetujuan pihak berwenang China. Hal ini akan dilakukan pada pertengahan pekan," katanya, seperti dilaporkan Deutsche Welle.

Prancis merupakan salah satu dari sejumlah negara yang mengumumkan rencana untuk mengevakuasi warganya, termasuk Italia, Jepang, Australia, dan Amerika Serikat (AS).

Ini sebagai bentuk antisipasi Prancis mencegah ratusan warganya yang tinggal di daerah Wuhan tertular virus mematikan tersebut. Mereka yang dipulangkan nantinya diharuskan menghabiskan waktu 14 hari di karantina.

Produsen mobil asal Prancis, PSA Group, juga akan mengevakuasi karyawannya di Wuhan, menempatkan mereka di karantina dan kemudian membawa mereka pulang ke Prancis.

Pada Minggu (26/1/2020), pemerintah Sri Lanka juga mengumumkan akan membawa pulang sebanyak 150 pelajarnya dari China dalam dua hari ke depan.

"Kami ingin dievakuasi sesegera mungkin, karena antara virus, kelaparan atau justru ketakutan yang akan membunuh kami," kata Mashal Jamalzai, seorang mahasiswa Afghanistan di Universitas Normal China Tengah, kepada kantor berita AFP.

BACA JUGA: Wabah Virus Korona, Prancis Akan Kirim Pesawat ke Wuhan Jemput Ratusan Warganya

Jepang juga berencana mengevakuasi ratusan warganya dari Wuhan. Hal itu disampaikan oleh Sekjen Partai Demokratik Liberal Toshihiro Nikai pada Senin (27/1/2020).

Menurutnya, sebuah pesawat akan dikirimkan ke ibu kota Provinsi Hubei, paling lambat pada Selasa (28/1/2020) untuk mengevakuasi warga Jepang yang ingin pulang ke negaranya.

Pemerintah Jepang mengonfirmasi setidaknya 560 warga Jepang tinggal di provinsi tersebut, demikian menurut Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi.

Kasus keempat akibat virus tersebut dideteksi di Jepang bagian tengah pada Minggu (26/1/2020). Menurut Menteri Kesehatan Jepang, seorang wisatawan pria berusia 40-an asal Wuhan didiagnosa mengalami pneumonia yang disebabkan oleh virus corona.

Seperti yang dilaporkan Kyodo News, pria itu tiba di Jepang pada pekan lalu dan pergi ke rumah sakit di Aichi pada Jumat (24/1/2020) setelah mengalami demam. Hasil diagnosisnya kemudian dikonfirmasi pada Minggu (26/1/2020).

BACA JUGA: Virus Korona, AS Keluarkan Perintah Evakuasi Warganya dari Wuhan dan Tutup Kantor Konsulat

Jepang mengonfirmasi kasus kedua dan ketiga pada Jumat dan Sabtu setelah dua pengunjung asal Wuhan –seorang laki-laki dan perempuan– masing-masing didiagnosis terkena virus corona. Sementara, kasus pertama terdeteksi pada pertengahan Januari setelah warga negara China yang tinggal di dekat Tokyo dinyatakan positif terkena virus corona setelah sebelumnya mengunjungi Wuhan pada bulan ini.

Virus Corona sulit dideteksi

Menteri Kesehatan Prancis mengatakan bahwa keputusan pelarangan penerbangan dari China harus diterapkan Uni Eropa. Dia juga menolak seruan melakukan pemindaian suhu tubuh penumpang yang datang dari China, dengan menyebut bahwa gejala-gejala seperti flu akibat virus justru dapat muncul setelahnya.

"Buktinya adalah bahwa tiga pasien virus corona yang dikonfirmasi di Prancis tidak terdeteksi dengan pemindaian suhu. Mereka semua tiba di sini tanpa demam dan justru menunjukkan gejala penyakit akibat virus itu setelahnya," katanya.

Prancis diketahui mengonfirmasi tigas kasus virus corona di negaranya.

Pejabat China mengatakan virus itu dapat bermutasi dan dapat ditularkan melalui kontak manusia.

AS dalam keadaan siaga

Para pejabat AS pada Minggu (26/1/2020) mengatakan bahwa lima orang terinfeksi virus tersebut. Ini muncul setelah dua kasus baru dikonfirmasi terjadi pada hari yang sama, satu di Los Angeles di California dan satu lagi di Arizona.

Pejabat dari Departemen Pelayanan Kesehatan Arizona mengatakan bahwa pasien di wilayah Maricopa itu tidak dalam keadaan sakit parah dan tengah diisolasi di dalam rumah.

Pasien lainnya baru menyadari bahwa dirinya merasa tidak sehat ketika tiba di Bandara Internasional Los Angeles.

"Semuanya berjalan sebagaimana mestinya,” kata Dr. Sharon Balter dari Departemen Kesehatan Masyarakat LA.

"Pasien ditangani, dia segera dibawa ke rumah sakit dan (kini) pasien tetap berada di rumah sakit," ujar Balter.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut