Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Presiden Macron Tolak Kerahkan Militer Buka Selat Hormuz: Tidak Masuk Akal!
Advertisement . Scroll to see content

Target Invasi Rusia untuk Demiliterisasi dan Denazifikasi Ukraina, Apa Maksudnya?

Kamis, 31 Maret 2022 - 11:08:00 WIB
Target Invasi Rusia untuk Demiliterisasi dan Denazifikasi Ukraina, Apa Maksudnya?
Tank Rusia menggunakan huruf Z sebagai simbol saat menggempur wilayah Ukraina. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Target invasi Rusia untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina sampai hari ini tampaknya masih jauh panggang dari api. Sudah lebih dari sebulan berlalu, operasi militer Rusia di Ukraina belum lagi menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat.

Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022. Hingga saat ini, agresi militer itu masih berlangsung. Selama operasi tersebut, Rusia mengeklaim telah menghancurkan berbagai objek militer Ukraina dengan rudal jelajah. 

Dalam pidatonya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan itu sebagai operasi militer khusus yang ditujukkan untuk “demiliterisasi” serta “denazifikasi” Ukraina. Kedua istilah itu mempunyai target yang berbeda, namun saling berkaitan. 

Demiliterisasi memiliki motif geopolitik yang berkaitan dengan perluasan NATO ke timur. Untuk diketahui, Rusia sejak awal menilai eksistensi NATO sudah tidak relevan. Hal ini seiring dengan berakhirnya Perang Dingin. 

Rusia pun telah mengambil langkah dengan menjalin kemitraan dengan NATO. Namun sayang, upaya yang dilakukan negeri beruang merah itu acap kali diabaikan oleh Barat. Karenanya, misi demiliterisasi oleh Rusia ditujukan guna melumpuhkan kekuatan rezim yang berkuasa di Kiev, yang telah menimbulkan kesengsaraan terhadap rakyat Ukraina Timur.

Selain demiliterisasi, Rusia juga membawa misi dezanifikasi. Operasi tersebut menargetkan Ukraina sebagai sasaran utama dan serta ke dalam negeri Rusia sendiri. Hal ini dilakukan Rusia untuk penguatan nasionalisme seluruh warga negara Rusia. 

Rusia menilai Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengusung pemerintahan yang berhaluan ultranasionalis-fasis, sehingga membahayakan masyarakatnya sendiri. Menurut Angkatan Bersenjata Rusia, operasi denazifikasi ini menyasar individu atau kelompok bersenjata yang menghidupkan simbol-simbol Nazi di Ukraina. 

Rusia mengalami trauma dengan Nazi pada Perang Dunia II. Ketika itu, Nazi menyerang Rusia (kala itu bernama Uni Soviet) pada Juni 1941. Melihat pengalaman pahit, Rusia mempunyai trauma sendiri terhadap semua hal yang berkaitan dengan Nazi. 

Diketahui, di Ukraina terdapat Batalyon Azov. Awalnya Batalyon Azov ini merupakan paramiliter bersenjata yang mengibarkan simbol Nazi seperti lambang Wolfsangel serta Swastika.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut