Ternyata Australia Selidiki Apakah Warganya Tidur Cukup Setiap Hari
SYDNEY, iNews.id - Pemerintah Federal Australia memprakarsai penyelidikan yang akan dilakukan oleh parlemen mengenai apakah warga Australia cukup tidur. Pemerintah juga akan menyelidiki biaya ekonomi dan sosial yang dikeluarkan akibat warganya kurang tidur.
"Masalah tidur adalah masalah yang berkembang dan semakin besar di Australia, dan faktanya, penelitian yang kami lihat menunjukkan bahwa setidaknya empat dari 10 warga Australia tidak mendapatkan tidur yang cukup secara teratur," kata anggota parlemen dari Partai Liberal, Trent Zimmerman.
Dia adalah ketua Komite Tetap Parlemen nasional bidang Kesehatan, Perawatan Warga senior dan Olahraga, yang akan melakukan penyelidikan ini dan diharapkan akan bisa melaporkan kembali temuannya ke Parlemen dalam beberapa bulan ke depan.
Penyelidikan ini menerima lebih dari 100 masukan. Nantinya, akan ada acara dengar pendapat di seluruh Australia.
"Kita tahu bahwa tidur sangat penting bagi fungsi tubuh kita, baik itu kesehatan mental, tingkat kewaspadaan, memori atau kemampuan kinerja kita, jadi ini adalah masalah yang terus berkembang yang perlu kita soroti," kata Zimmerman.
Dia mengatakan, hikmat yang diterima adalah bahwa setiap orang membutuhkan tujuh atau delapan jam tidur per malam, dan orang-orang muda dapat membutuhkan lebih dari itu saat otak mereka berkembang.
"Jadi, apakah kita benar-benar mendapatkan jumlah tidur yang cukup, baik karena gangguan tidur, tetapi juga karena keputusan gaya hidup yang kita buat," katanya.
Menurut Zimmerman, seperti kebanyakan politisi, dia terbiasa dengan pola tidur yang buruk.
"Tetapi ini adalah masalah serius bagi banyak orang di dunia kerja, khususnya pekerja shift, yang jelas mengganggu pola tidur mereka," katanya.
"Dan kami ingin melihat, secara efektif, dukungan dan saran dan pendidikan apa yang ada bagi mereka yang berada dalam angkatan kerja yang terganggu pola tidurnya akibat pekerjaan yang mereka lakukan."
Beberapa penelitian menunjukkan, kerja shift dapat berdampak negatif pada kesehatan dan bahkan memperpendek harapan hidup.
Zimmerman menyebut, penyelidikan akan melihat pekerjaan yang dianggap paling rentan.
"Sekitar 16 persen orang Australia adalah pekerja shift dan banyak dari mereka menjalani profesi, misalnya, pekerjaan mengemudikan kendaraan, di mana mereka membuat keputusan yang berdampak hidup atau mati," katanya.
"Jadi sangat penting bahwa orang-orang dalam profesi itu sadar akan apa yang harus mereka lakukan untuk mendapatkan tidur yang cukup sehingga mereka berkinerja baik."
Sebelumnya, pemerintah memfokuskan pada diet dan kebugaran sebagai prekursor untuk masalah kesehatan. Dia juga menuturkan, ada bukti kuat kurangnya tidur menyebabkan gejala depresi, dan itu merupakan masalah serius.
Penyelidikan juga akan melihat secara khusus pada dampak teknologi baru pada pola tidur.
Zimmerman secara khusus menyalahkan perilaku FOMO (fear of missing out), istilah yang sekarang dikaitkan dengan media sosial bahwa banyak orang takut akan ketinggalan informasi sehingga mereka tidak bisa melepaskan HP dan tablet mereka, bahkan ketika hendak tidur sekalipun.
"Apa yang kita ketahui itu adalah perilaku yang dapat memiliki dampak yang sangat merusak pada pola tidur orang-orang," katanya.
"Bahkan dengan menggunakan tablet atau televisi di kamar tidur Anda, jika digunakan terlalu lama maka pancaran cahaya dari gawai itu akan benar-benar dapat menipu tubuh untuk berpikir bahwa itu bukan waktu malam," katanya.
Dia berharap hasil penyelidikan ini akan membantu orangtua untuk memastikan anak-anak mereka tidak tidur dengan perangkat di dekat tempat tidur mereka.
Editor: Nathania Riris Michico