Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Atasi Overkapasitas Lapas, Pemerintah Sepakat Pengguna Narkoba Direhabilitasi Bukan Dipenjara
Advertisement . Scroll to see content

Terungkap! Ini Penyebab Wabah HIV Menggila di Fiji hingga Ditetapkan Darurat Nasional

Kamis, 17 September 2026 - 15:43:00 WIB
Terungkap! Ini Penyebab Wabah HIV Menggila di Fiji hingga Ditetapkan Darurat Nasional
Wabah HIV menggila di Fiji, memaksa pemerintah menetapkan keadaan darurat nasional pada Selasa (15/9) (Foto: AP)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Wabah Human Immunodeficiency Virus (HIV) menggila di Fiji hingga pemerintah menetapkan keadaan darurat nasional. Negara kepulauan di Pasifik itu menghadapi lonjakan infeksi yang disebut berkaitan dengan meningkatnya penggunaan narkoba suntik serta penularan melalui hubungan seksual.

Menteri Kesehatan Fiji Atonio Lalabalavu mengumumkan keadaan darurat HIV pada Selasa (15/8/2026), setelah negara tersebut mencatat 2.060 kasus baru HIV sepanjang 2025.

Lonjakan tersebut membuat sekitar 1 dari setiap 60 orang dewasa di Fiji kini diperkirakan hidup dengan HIV. Angka itu meningkat tajam dibandingkan lima tahun sebelumnya, ketika diperkirakan hanya 1 dari 167 penduduk yang hidup dengan virus tersebut.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah meningkatnya penggunaan narkoba suntik di Fiji. Negara kepulauan tersebut diketahui menjadi titik transit penting perdagangan narkotika dari Amerika Serikat menuju pasar di Australia, Selandia Baru, serta sejumlah wilayah Asia.

Penggunaan narkoba melalui jarum suntik dapat meningkatkan risiko penularan HIV ketika peralatan suntik digunakan secara bergantian. Kondisi tersebut kemudian diperburuk oleh penularan seksual yang masih terus terjadi.

Rendahnya penggunaan kondom dan stigma sosial terhadap HIV turut menjadi hambatan dalam upaya mengendalikan penyebaran virus. Banyaknya warga yang tidak mengetahui status kesehatannya juga membuat penularan semakin sulit diputus.

Penasihat Fiji untuk Program Bersama PBB tentang HIV/AIDS (UNAIDS), Renata Ram, menyoroti cepatnya penyebaran epidemi tersebut.

"Hal yang paling mengkhawatirkan saya adalah kecepatan penyebaran epidemi ini dan banyaknya orang yang tak sadar bahwa mereka mungkin hidup dengan HIV," kata Ram, seperti dikutip dari CNN.

Data UNAIDS menunjukkan hanya sekitar 39 persen warga Fiji yang terpapar HIV mengetahui status mereka. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 22 persen yang menjalani pengobatan.

Wabah tersebut bahkan telah menjangkau bayi. Save the Children Fiji mencatat 59 bayi tertular HIV dari ibu mereka sepanjang 2025. Seorang bayi berusia 2 bulan menjadi pasien termuda yang teridentifikasi mengidap HIV sekaligus tuberkulosis (TB).

Fiji sebenarnya telah mengumumkan wabah HIV sejak Januari 2025. Namun, peningkatan pemeriksaan kesehatan justru mengungkap skala krisis yang lebih besar.

Dampak epidemi juga terlihat dari meningkatnya angka kematian. Fiji mencatat 117 kematian terkait HIV pada 2025, dibandingkan 25 kasus pada 2021.

HIV menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi AIDS apabila tidak ditangani. Penderita kemudian menjadi jauh lebih rentan terhadap infeksi serius dan sejumlah penyakit lainnya.

Dengan meningkatnya kasus, rendahnya kesadaran mengenai status HIV, serta faktor risiko berupa penggunaan narkoba suntik dan penularan seksual, pemerintah Fiji kini menghadapi tantangan besar untuk menghentikan penyebaran epidemi tersebut.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut