Terus Digempur Houthi, Arab Saudi Siapkan Berbagai Skenario
RIYADH, iNews.id - Arab Saudi menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi gelombang serangan kelompok Houthi Yaman yang terus menyasar wilayahnya sejak awal Oktober 2026. Serangan terhadap lima bandara Saudi dalam 10 insiden sejak 5 Oktober telah menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai ratusan lainnya.
Rentetan serangan tersebut juga mengganggu lalu lintas udara, merusak fasilitas bandara, serta memaksa penghentian sementara operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Situasi ini meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Saudi untuk menjaga keamanan warga dan kelangsungan aktivitas penerbangan sipil.
Menteri Informasi Arab Saudi Salman Al Dosari menegaskan pemerintah telah mempersiapkan berbagai kemungkinan, terlepas dari seberapa besar eskalasi konflik yang terjadi.
"Kehidupan di kerajaan ini, syukur Alhamdulillah, tetap berjalan normal," ujar Al Dosari dalam konferensi pers di Riyadh, seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.
Dia menekankan bahwa peningkatan kesiapsiagaan bukan berarti pemerintah diliputi kecemasan. Sebaliknya, langkah tersebut mencerminkan persiapan negara menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi.
"Meningkatkan kesiapsiagaan bukan berarti ada kecemasan. Sebaliknya, hal itu mencerminkan kesiapan pemerintah dalam menghadapi berbagai skenario, apa pun kemungkinan yang terjadi," katanya.
Lima Bandara Saudi Jadi Sasaran
Menurut data Anadolu, sejak 5 Oktober, lima bandara di Arab Saudi menjadi sasaran 10 serangan Houthi. Bandara-bandara tersebut berada di Riyadh, Dammam, Abha, Jazan, dan Najran.
Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi salah satu lokasi yang paling sering diserang. Dalam rentang beberapa hari, serangan berulang menimbulkan korban jiwa, merusak fasilitas, dan mengganggu operasional penerbangan.
Pada Sabtu (10/10/2026), serangan terhadap bandara tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Jumlah korban tewas kemudian bertambah setelah sejumlah korban meninggal akibat luka-luka.
Pada Minggu (11/10/2026), serangan kembali menghantam terminal Bandara King Khalid. Otoritas penerbangan Saudi melaporkan satu warga negara Pakistan tewas dan 11 orang lainnya terluka.
Rentetan serangan itu membuat keselamatan penumpang dan pekerja bandara menjadi perhatian utama. Sejumlah penerbangan juga dibatalkan atau dialihkan akibat gangguan operasional.
Penerbangan Internasional Terdampak
Dampak serangan meluas hingga ke penerbangan internasional. Lufthansa membatalkan penerbangan ke Riyadh hingga 16 Oktober, sedangkan Air France-KLM memperpanjang penangguhan layanan dari dan menuju ibu kota Saudi tersebut hingga akhir Oktober.
Gangguan ini terjadi ketika Riyadh menjadi tuan rumah Kongres Perminyakan Dunia atau World Petroleum Congress pada 11-15 Oktober 2026. Forum tersebut tetap berlangsung meski serangan berulang menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan di ibu kota Saudi.
Pemerintah Saudi berupaya memastikan aktivitas masyarakat dan agenda internasional tetap berjalan di tengah situasi keamanan yang memburuk.
Konflik Saudi-Houthi Memanas
Eskalasi terbaru berlangsung di tengah konflik berkepanjangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.
Arab Saudi memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman melawan Houthi sejak Maret 2015. Kelompok tersebut menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah lain sejak September 2014.
Serangan terbaru tidak hanya menyasar fasilitas penerbangan, tetapi juga terjadi di tengah ketegangan yang melibatkan infrastruktur energi dan kepentingan strategis Saudi.
Pemerintah Riyadh kini menegaskan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan sembari mempertahankan aktivitas normal. Namun, serangan yang berulang menunjukkan bahwa keamanan bandara dan perlindungan warga sipil tetap menjadi tantangan utama di tengah eskalasi konflik.
Editor: Anton Suhartono