Tindakan Junta Militer Makin Keras, 2 Tokoh Politik Terkemuka Ditangkap
KHARTOUM, iNews.id - Dua politikus terkemuka ditahan pihak militer Sudan. Penangkapan tersebut menjadi bukti tindakan keras junta militer terhadap para kritikus dan aktivis yang terkait gerakan protes adanya kudeta.
Koalisi Pasukan Kebebasan dan Perubahan (FFC) pada Rabu (9/2/2022) melaporkan, Khalid Omer Yousif dan Wagdi Salih ditangkap pihak militer Sudan. Keduanya terlibat dalam satuan tugas yang menyita properti dan memecat birokrat yang terkait dengan rezim Omar al-Bashir. Rezim ini jatuh setelah pemberontakan rakyat pada 2019.
Yousif juga bertugas di Kabinet pemerintahan sipil di bawah perjanjian pembagian kekuasaan antara militer dan FFC.
Dilansir dari Reuters, juru bicara kelompok aktivis pengacara, Samir Sheikh Idris mengatakan, ada sekitar 105 orang ditahan atas aktivitas politik. Kebanyakan dari mereka merupakan anggota komite perlawanan lokal yang ditahan di Penjara Soba Khartoum.
1.500 Orang Tewas di Tangan Junta Militer Myanmar, 200 di Antaranya akibat Disiksa
"Sekitar 2.000 orang telah ditahan dan dibebaskan dengan jaminan sehubungan dengan demonstrasi sejak kudeta," kata Idris.
Kantor Kejaksaan Sudan tidak menanggapi permintaan komentar penangkapan ini.
Kuasa Usaha AS untuk Sudan mengatakan, penahanan itu merusak upaya untuk menyelesaikan krisis politik.
"Penangkapan dan penahanan sewenang-wenang terhadap tokoh politik, aktivis masyarakat sipil, dan jurnalis merusak upaya untuk menyelesaikan krisis politik Sudan," kata Lucy Tamlyn dalam sebuah tweet, Rabu.
Sumber dari Partai Kongres Sudan, Yousif mengatakan ditangkap dari markas partai oleh pasukan keamanan. Dia dibawa ke kantor polisi Khartoum Utara.
Sementara Tweet dari akun Salih mengatakan, dia dibawa ke stasiun yang sama, kemudian dimasukkan ke Penjara Omdurman bersama anggota satuan tugas lainnya. Mereka sedang diselidiki terkait tuduhan 'pelanggaran kepercayaan'.
Awal pekan ini, sebuah komite yang ditunjuk oleh para pemimpin militer untuk meninjau pekerjaan gugus tugas menuduhnya melampaui batas karena alasan penyitaan perusahaan dan mobil yang tidak semestinya.
Ribuan orang Sudan berbaris menentang kekuasaan militer di Khartoum dan kota-kota lain, pada Senin (7/2/2022). Sejumlah warga mengaku khawatir tentang kembalinya Sudan ke pemerintahan anggota rezim Bashir yang dulu digulingkan.
Petugas medis yang bersekutu dengan gerakan protes mengatakan, sedikitnya 79 orang telah tewas ketika pasukan keamanan membubarkan protes dengan gas air mata dan tembakan. Militer dan polisi mengatakan protes damai diperbolehkan dan korban sedang diselidiki.
Demonstrasi lebih lanjut direncanakan akan digelar pada Kamis (10/2/2022) dan Senin pekan depan.
Editor: Umaya Khusniah