Tolak Ajakan Minum dan Mabuk Bareng, Karyawan Bank Ditampar Bos
HONG KONG, iNews.id – Seorang karyawan Bank Internasional Xiamen di China ditampar bosnya gara-gara tak mau diajak minum alkohol bareng. Insiden tersebut cukup membuat heboh publik di negeri tirai bambu.
New York Times melansir, kejadian itu berlangsung di tengah jamuan makan malam perusahaan di Beijing, Kamis (20/8/2020) lalu. Kala itu, seorang bos di bank itu meminta korban agar memesan minuman beralkohol. Ketika korban menolak, seorang eksekutif lain menamparnya.
Tamparan yang terdengar di seluruh China itu telah mendorong masyarakat di negeri itu untuk merenungkan kembali budaya minum kalangan profesional di China. Budaya yang dimaksud adalah, para atasan akan memberikan penghargaan berlebihan kepada karyawan yang mau diajak “mabuk”. Sebaliknya, mereka yang bukan golongan peninum, akan diasingkan dalam pergaulan kantor.
Karyawan yang menjadi korban penamparan itu menceritakan pengalamannya di WeChat, aplikasi perpesanan berbahasa Mandarin. Namun, kisahnya itu jadi benar-benar meledak di media sosial ketika pihak bank meminta maaf pada Senin (24/8/2020) lalu kepada karyawan tersebut—yang hanya disebut memiliki nama Yang.
Polisi Amankan Pemuda Mabuk yang Bikin Onar di Mimika
Tangkapan layar akun WeChat milik Yang, di samping tanggapan bank, segera menjadi viral, dan menuai ribuan komentar di Weibo, platform mikroblog China.
“Jika ‘budaya’ atau ‘ritual’ tertentu mengorbankan kesehatan dan (berujung pada) kematian, dapatkah Anda tetap menyebutnya ‘budaya’?” ungkap seorang dokter di Provinsi Shandong, Xu Chao, lewat blog pribadinya, menanggapi pengalaman Yang.
Dalam sebuah pernyataan, pihak bank menyatakan bahwa dua direktur telah terlibat dalam serangan secara verbal dan fisik yang menyebabkan gangguan dan kerugian bagi Yang. Saat penamparan terjadi, kata pernyataan itu, dua direktur yang bersangkutan sedang dalam keadaan mabuk.
Bank Internasional Xiamen pun menyatakan telah memotong sebagian dari gaji kedua direktur itu, lewat perintah pada cabang kantornya di Beijing. Pihak bank juga telah mengeluarkan peringatan kepada kedua pelaku atas “perbuatan salah mereka saat mabuk”.
Bos Yang, yang hanya disebut memiliki nama belakang Dong, juga tidak akan menerima bonus berbasis kinerja selama enam bulan, tambah pernyataan bank itu. Sementara, manajer cabang Beijing tidak akan menerima bonus selama tiga bulan.
Di sejumlah belahan dunia, minuman beralkohol telah lama dilihat sebagai cara bagi para karyawan untuk menjalin ikatan, atau; sebagai katalisator untuk kesepakatan bisnis, dan; sebagai pelumas penting untuk hubungan profesional.
Namun, di Korea Selatan, generasi muda profesional telah menolak diskusi proyek larut malam di bar, dan pemerintah setempat justru menentang budaya lembur.
Editor: Ahmad Islamy Jamil