TOKYO, iNews.id - Topan Faxai menerjang kawasan di sekitar ibu kota Jepang, Tokyo. Topan itu membawa hujan lebat dan angin berkecepatan hingga 210 kilometer per jam.
Ratusan ribu orang di kawasan sekitar Tokyo disarankan mengungsi setelah prakirawan cuaca memperingatkan bahwa kondisi hujan dan angin dapat memecahkan rekor.
Langka, AS Kumpulkan Kepala Militer 34 Negara di Washington, Ada Apa?
Dilaporkan BBC, Senin (9/9/2019), badai itu juga memengaruhi layanan transportasi, di mana sekitar 100 jadwal kereta Shinkansen dan 100 penerbangan di Tokyo dibatalkan.
Topan itu datang setelah Korea Utara juga diterjang topan lain pada Minggu (8/9) yang menewaskan lima orang. Topan Faxai menewaskan lima orang di Korea Utara.
Menurut perusahaan Tokyo Electric Power, listrik di sekitar 290.000 rumah putus ketika Topan Faxai mendarat.
Pihak berwajib mengeluarkan peringatan evakuasi tidak-wajib bagi lebih dari 390.000 warga di prefektur Kanagawa, Shizuoka, dan Tokyo.
JR East, operator utama kereta api di daerah pinggiran Tokyo, membatalkan jadwal kereta mereka di kawasan tersebut hingga Senin (9/9) pagi untuk memberi waktu proses inspeksi lajur kereta yang mungkin rusak akibat topan.
Topan Faxai kini mengarah ke utara dengan kecepatan 25 kilometer per jam dan diperkirakan akan menerjang sisi timur laut Jepang. Pemerintah juga memberi peringatan kemungkinan terjadinya longsor dan luapan sungai.
Badai datang di tengah persiapan yang dilakukan Jepang untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby.
Manajer tim Inggris, Eddie Jones, mengatakan pihaknya akan melanjutkan sesuai rencana, sementara rencana darurat disiapkan sebelum turnamen dimulai pada 20 September nanti.
Kedatangan tim Australia pun tertunda akibat badai tersebut.
Pada Sabtu (7/9/2019), Topan Lingling melintasi Korea Utara, menyebabkan banjir di lahan pertanian seluas 460 kilometer persegi, menurut kantor berita Korut, KCNA.
Ada kekhawatiran bahwa badai itu dapat memperburuk kondisi kurangnya persediaan makanan di negeri itu.
Pada awal tahun ini, PBB memperingatkan bahwa hampir 10 juta warga Korea Utara sangat membutuhkan bantuan pangan.
Editor: Nathania Riris Michico