Trump Ancam Hancurkan Gunung Pickaxe Iran, Tempat Sembunyikan Nuklir
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang kompleks terowongan Gunung PickaxeIran yang diduga menyimpan program nuklir negara itu. Trump menyebut militer AS akan menyerang Gunung Pickaxe dalam waktu dekat.
Fasilitas bawah tanah tersebut menjadi target potensial, meski militer AS sebelumnya telah menyerang beberapa fasilitas nuklir Iran lainnya.
"Kita lihat saja apa yang terjadi. Bisa jadi dalam waktu dekat," kata Trump, seperti dikutip dari AFP, Rabu (22/7/2026).
Trump bersumpah daerah tersebut akan dihantam dengan sangat hebat.
Menutuy Trump, Iran mungkin memindahkan sentrifugal nuklir ke Gunung Pickaxe.
"Kami mengikuti materialnya. Di situlah aksinya," kata Trump.
Beberapa pesawat pengebom strategis Angkatan Udara AS B-1 Lancer dilaporkan meninggalkan Inggris, tak lama setelah Trump menyampaikan ancaman itu.
Perdana Menteri Inggris yang baru, Burnham, juga menyetujui penggunaan pangkalan Inggris oleh AS untuk menyerang Iran.
Sementara itu, pesawat tanker Boeing KC-135 "Stratotanker" juga telah lepas landas dari Rumania.
Namun tujuan operasi pesawat-pesawat iutu belum terkonfirmasi.
Sebelumnya surat kabar The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, Iran memindahkan ribuan sentrifugal ke terowongan di bawah Gunung Pickaxe. Lokasinya sekitar 220 km sebelah selatan Ibu Kota Teheran dan beberapa km saja dari kompleks pengayaan uranium Natanz.
Dikenal sebagai Kuh-e Kolang Gaz La oleh warga lokal, gunung tersebut terletak di pegunungan Zagros dan menjulang sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Lokasi pegunungan tersebut menarik perhatian badan intelijen negara-negara Barat karena terowongan di bawahnya sangat luas dan diyakini menjadi tempat operasional nuklir yang sensitif.
Sementara itu para pengamat mengatakan, fasilitas tersebut dirancang bisa menahan serangan udara konvensional, bahkan mungkin berfungsi sebagai lokasi cadangan pengayaan uranium, penelitian senjata, hingga menyimpan barang sensitif.
Editor: Anton Suhartono