Trump Sebut Hamas Mudah Dihancurkan, tapi...
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut kelompok perlawanan Palestina, Hamas, sebenarnya bisa dilenyapkan dengan sangat mudah militernya. Namun, dia menegaskan Washington memilih jalur diplomasi karena telah mencapai kesepakatan dengan kelompok tersebut dalam kerangka perjanjian damai Gaza.
“Jika terpaksa, kita akan menyingkirkan Hamas dengan sangat mudah dan itu akan menjadi akhir bagi Hamas. Tapi kita lebih suka tidak melakukannya. Kita sudah membuat kesepakatan dengan mereka,” ujar Trump, dalam perjalanan dari Jepang menuju Korea Selatan menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One, Rabu (29/10/2025).
Selain itu Trump menilai Hamas hanya sebagian kecil masalah dari persoalan besar Timur Tengah. Dia mengatakan fokus utama AS adalah memastikan stabilitas jangka panjang dan mencegah konflik baru di kawasan.
“Hamas hanyalah bagian kecil dari perdamaian di Timur Tengah. Masalah yang lebih besar adalah bagaimana memastikan semua pihak mematuhi perjanjian,” kata Trump.
Israel Serang Gaza, Hamas: Pelanggaran Gencatan Senjata Terang-terangan!
Serangan Israel ke Gaza Bukan Pelanggaran Gencatan Senjata
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga membela Israel atas serangan udara ke Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 30 orang pada Selasa (28/10/2025) malam. Dia menegaskan tindakan Israel tidak dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Hamas Rela Lepaskan Gaza demi Rekonsiliasi Nasional Palestina
“Israel perlu membalas jika diserang oleh Hamas. Tidak ada yang membahayakan perjanjian Gaza,” tuturnya.
Hamas membantah keras tuduhan bahwa mereka melakukan serangan terhadap pasukan Israel di Rafah. Kelompok tersebut balik menuduh Tel Aviv sengaja mencari-cari alasan untuk kembali menyerang Gaza dan menutupi kegagalan politik dalam negeri.
Dalam pernyataannya di Telegram, Hamas menyebut serangan udara Israel sebagai “penembakan jahat dan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata.”
Sejak perjanjian gencatan senjata yang disepakati di Sharm El Sheikh, Mesir, mulai berlaku pada 10 Oktober, Hamas mengklaim Israel telah lebih dari sepuluh kali melanggar kesepakatan dan menewaskan lebih dari 100 warga Palestina.
Anggota Biro Politik Hamas, Suhail Al Hindi, menuding Israel berusaha mengalihkan perhatian publik dari tekanan internasional dengan menciptakan eskalasi baru di Gaza.
“Israel terus menebar tuduhan palsu dan memutarbalikkan fakta demi kepentingan politik dalam negeri,” ujarnya.
Editor: Anton Suhartono