Trump Tambah Kekuatan Militer di Timur Tengah, Israel Bersiap Hadapi Iran
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memperkuat kekuatan militernya di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. AS dilaporkan akan mengirim pasukan dan pesawat tambahan ke Israel dalam beberapa pekan mendatang, sementara ribuan tentara dan kapal perang AS juga bergerak menuju kawasan.
Laporan tersebut muncul ketika Israel bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi baru dengan Iran. Sekitar 3.000 personel militer AS saat ini sudah berada di Israel dan menjalankan berbagai tugas, termasuk mengoperasikan sistem pertahanan udara, dukungan penerbangan, logistik, serta operasi di markas militer.
Menurut laporan media Israel Walla yang dikutip Anadolu, tambahan pasukan dan pesawat AS akan dikirim ke Israel sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi di Timur Tengah. Militer AS juga melakukan rotasi rutin pasukan dalam beberapa pekan terakhir.
Pengerahan tersebut berlangsung bersamaan dengan penambahan besar-besaran kekuatan AS di kawasan. Pentagon dilaporkan mengirim sekitar 9.000 personel, termasuk pelaut dan Marinir, bersama kelompok kapal perang yang mencakup kapal induk USS Theodore Roosevelt. Pengerahan itu berpotensi membuat tiga kapal induk AS berada di Timur Tengah pada akhir Oktober.
Laporan Wall Street Journal yang dikutip sejumlah media internasional menyebut total tambahan kekuatan tersebut dapat mencapai 9.000 hingga 10.000 personel. Kehadiran tiga kapal induk dan kelompok kapal amfibi akan memberikan Trump lebih banyak pilihan militer jika dia memutuskan meningkatkan operasi terhadap Iran.
Israel Bersiap Hadapi Iran
Di tengah pengerahan tersebut, militer Israel terus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi baru dengan Iran atau memburuknya situasi keamanan secara cepat.
Menurut sumber keamanan Israel yang dikutip Walla, militer Israel bahkan mempersiapkan berbagai skenario operasi terhadap target potensial di wilayah Iran.
Israel juga terus berkoordinasi erat dengan Komando Pusat AS atau Centcom untuk menghadapi kemungkinan serangan rudal Iran.
Sumber keamanan Israel mengatakan musuh-musuh Israel sedang mengamati dengan saksama pemilu Israel pada 27 Oktober dan pemilu AS pada 3 November.
Mereka disebut menilai kemungkinan melakukan serangan yang dapat memengaruhi situasi keamanan dan politik tanpa langsung memicu perang regional yang lebih luas.
"Mereka memahami bahwa respons Israel kali ini akan sangat agresif," kata pejabat tersebut, menurut Walla.
Iran Siapkan Balasan Lebih Keras
Penguatan militer AS itu berhadapan dengan persiapan Iran yang juga semakin serius.
Reuters melaporkan bahwa Iran sedang mempersiapkan respons yang lebih luas dan lebih kuat jika AS kembali melancarkan serangan besar. Para komandan Iran bahkan disebut tengah mengkaji kemungkinan memperluas sasaran serangan hingga negara-negara yang mendukung operasi militer AS dan lokasi di luar Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga memperingatkan bahwa Teheran siap merespons secara militer jika Washington kembali memilih jalur serangan.
Situasi ini membuat pengerahan pasukan AS menjadi lebih sensitif karena setiap peningkatan kekuatan militer dapat dibaca Teheran sebagai persiapan menghadapi konflik baru.
Tiga Kapal Induk AS Menuju Kawasan
Skala pengerahan AS menunjukkan bahwa Washington tidak hanya memperkuat pertahanan Israel.
Pada akhir Oktober, tiga kapal induk AS diperkirakan dapat berada di kawasan Timur Tengah. Selain USS Theodore Roosevelt, pengerahan tersebut melibatkan kelompok kapal amfibi USS Makin Island dan kapal-kapal pendukung lainnya.
Laporan Washington Post menyebut pengerahan yang sedang dipersiapkan berpotensi membawa hampir 20.000 personel, sekitar 150 pesawat tempur, serta sejumlah kapal perusak yang memiliki kemampuan peluncuran rudal.
Konsentrasi kekuatan tersebut memberikan Washington sejumlah opsi apabila situasi dengan Iran kembali berubah menjadi konflik terbuka.
Namun, pengerahan pasukan tidak otomatis berarti serangan baru akan dilakukan. Sejumlah laporan menyebut Trump masih mempertimbangkan pilihan diplomasi dan militer.
Hormuz Masih Jadi Titik Panas
Di sisi lain, ketegangan AS-Iran juga masih terkait dengan Selat Hormuz.
Iran menegaskan selat tersebut tidak akan dibuka kembali sampai tujuh tuntutan yang diajukan kepada AS dipenuhi. Teheran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Hormuz dalam waktu tujuh hari melalui mediasi Qatar, tetapi Trump menolak proposal tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Reuters melaporkan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah bahkan sempat melampaui tingkat sebelum perang pada akhir September, tetapi pada saat yang sama serangan terhadap kapal di sekitar Hormuz meningkat.
Dengan demikian, penambahan pasukan AS di Israel dan pengerahan kekuatan besar ke Timur Tengah berlangsung ketika jalur energi dunia masih menghadapi risiko keamanan.
Jika ketegangan kembali meningkat, Israel dan AS kini memiliki kekuatan militer yang lebih besar di kawasan. Sementara itu, Iran telah memberi sinyal bahwa setiap serangan baru akan dibalas dengan respons yang lebih keras.
Kondisi tersebut membuat pengerahan militer Trump menjadi sinyal penting bagi arah konflik AS-Iran dalam beberapa pekan mendatang.
Editor: Anton Suhartono