Tsunami Sulteng, Keluarga Korban di Australia Masih Cemas Tunggu Kabar
ADELAIDE, iNews.id - Indah Manshuri meneteskan air mata saat berbicara tentang pesan yang dia dapat dari bibinya di Palu pada Minggu (30/9/2018) malam. Dia mengisahkan bagaimana momen saat mengetahui bencana gempa dan tsunami melanda tempat tinggal keluarganya di Palu.
"Saya hanya bertanya apa yang terjadi pada ibu saya, saudara laki-laki, dan perempuan saya. Dan mereka bilang mereka aman. Itu saja yang saya dengar dari mereka," kata Indah dengan emosional, seperti dikutip dari ABC News, Selasa (2/10/2018).
Sejak Jumat (28/9/2018), dari rumahnya di wilayah Seaford Meadows, Adelaide, Australia, Indah sudah berusaha menghubungi anggota keluarga dekat yang terjebak dalam bencana gempa-tsunami di Sulawesi Tengah.
Namun, dengan sambungan telekomunikasi yang kurang baik, dia sejauh ini belum bisa menjangkau mereka. Indah mengaku bingung dan sedih.
Australia Tawarkan Bantuan untuk Korban Gempa-Tsunami di Palu
"Itu sebabnya saya terus mencoba menelepon mereka, dan bertanya pada beberapa teman apakah mungkin mereka melihat mereka, atau melihat di Facebook," katanya.
Kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulteng. (Foto: ABC News)
Meskipun lega mendengar berita dari bibinya, namun dia tetap khawatir.
"Saya mencoba tadi malam, tetapi masih belum bisa terhubung. Saya berharap mereka aman, dan saya selalu berdoa untuk mereka."
"Bagian tersulitnya adalah komunikasi, karena kami belum mendengar apa-apa. Setiap hari kami bertanya-tanya, semoga mereka baik-baik saja,” timpal sang suami, Max Imran.
"Jadi kami mengandalkan keluarga lain untuk bisa berhubungan dengan kami, untuk memberi kami beberapa informasi."
Biasanya, Indah dan suaminya pulang ke Indonesia setiap Januari. Namun, kini mereka tak yakin kapan bisa kembali ke sana.
"Jika kami pergi lebih awal, di mana kami akan tinggal. Saat ini, semua yang kami tahu adalah mereka aman," kata Imram.
Namun, soal apakah rumah keluarga mereka masih berdiri tegak, hal itu belum diketahui.
"Semoga semua orang selamat, seluruh kota."
Liza Hughes belum bisa menghubungi saudara laki-lakinya di Palu sejak tsunami menerjang. (ABC News: James Oaten)
Sementara itu di Melbourne, Liza Hughes seharusnya merayakan ulang tahun ketujuh putranya. Namun pikiran Liza terus mencemaskan keluarganya yang berada ribuan kilometer jauhnya di Indonesia.
Saudara laki-laki Liza, Rahmat Satria, tinggal di Palu, Sulawesi Tengah, yang diguncang bencana tsunami pada Jumat (28/9/2018). Satria melakukan kontak dengan Liza pada Minggu (30/9/2018) pagi, mengatakan masih hidup namun rumahnya hancur.
Sejak itu, keluarga belum bisa melakukan kontak dengannya, lantaran sambungan listrik yang padam di banyak zona bencana.
"Ini menakutkan. Saya tak bisa berhenti memikirkannya. Saya tak bisa tidur. Saya ingin berbicara dengannya, hanya untuk mendengar suaranya agar tahu bahwa dia baik-baik saja," kata Liza, dari rumahnya di pinggiran Pakenham.
Rahmat Satria mengatakan kepada saudara perempuannya di Australia bahwa rumahnya hancur. (Foto: Supplied)
Dengan kekhawatiran tentang air bersih dan akses untuk mengintensifkan makanan, Pemerintah Indonesia membuka negaranya untuk menerima bantuan luar negeri pada Senin (1/10/2018).
Liza mengatakan, dia percaya kakaknya tinggal di tempat penampungan. Namun dia cemas akan kesehatannya.
"Apakah dia cukup makan? Apakah dia tidur di tempat yang sama? Apakah dia punya selimut?" tutur Liza.
Liza juga memiliki keluarga di Donggala, Sulawesi Tengah, yang juga belum diketeahui kabarnya.
"Sungguh memilukan melihat gambarnya (di televisi)," katanya.
Kelompok masyarakat Indonesia di seluruh Australia bersatu untuk mengumpulkan dana dan memberikan dukungan emosional kepada mereka yang membutuhkan.
Nika Suwarsih dari Komunitas Indonesia di Victoria mengatakan tragedi tersebut menyatukan komunitas Indonesia-Australia.
"Kita bisa bayangkan jika kita kehilangan keluarga dan harta benda kita. Teman saya kehilangan semua keluarganya. Jadi itu sangat menyedihkan. Kami hanya mencoba melakukan penggalangan dana sehingga bisa membantu dan mendukung mereka," kata Nika.
Departemen Luar Negeri Australia juga sudah mengonfirmasi memberi bantuan bagi Pemerintah Indonesia.
"Pemerintah Australia bekerja sama dengan mitra Pemerintah Indonesia terkait untuk mengidentifikasi opsi bantuan."
Editor: Nathania Riris Michico