Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Geger! Manohara Ribut dengan Ibu Sendiri, Ini Faktanya
Advertisement . Scroll to see content

Vatikan Klarifikasi Ucapan Paus soal Biarawati Jadi Budak Seks Pastor

Kamis, 07 Februari 2019 - 09:43:00 WIB
Vatikan Klarifikasi Ucapan Paus soal Biarawati Jadi Budak Seks Pastor
Paus Fransiskus. (Foto: VINCENZO PINTO/AFP/Getty Images)
Advertisement . Scroll to see content

VATIKAN, iNews.id - Vatikan mengklarifikasi pernyataan Paus Fransiskus terkait kasus perbudakan seks pada sebuah organisasi kesusteran di Prancis. Pemimpin umat Katolik itu sebelumnya mengakui banyak para biarawati Katolik jadi budak seks oleh pastor Prancis.

Hal itu diungkap Paus dalam konferensi pers, Selasa (5/2), saat mengakhiri kunjungannya ke Uni Emirat Arab. Kala itu Paus Fransiskus menjawab pertanyaan mengenai pelecehan seksual terhadap sejumlah biarawati oleh seorang pastor.

Pengakuan langka itu memaksa Vatikan mengklarifikasi dan menyebut pernyataan Paus merujuk pada penyalahgunaan kekuasaan yang tercermin dalam wujud pelehan seksual.

Juru bicara Vatikan Alessandro Gisotti mengatakan, sewaktu Paus menyebutkan perbudakan seks, yang dimaksud adalah manipulasi atau penyalahgunaan kekuasaan yang tercermin dalam bentuk pelecehan seksual.

Menurut surat kabar Katolik La Croix di Prancis, komunitas Katolik St. Jean pada 2013 mengakui bahwa salah satu pendirinya, seorang pastor, menyalahgunakan kekuasaanya untuk melecehkan secara seksual sejumlah biarawati.

Pernyataan Paus Fransikus ini merupakan pertama kalinya dari seorang pemimpin Gereja Katolik Roma, untuk mengakui pelecehan seksual yang dilakukan pastor terhadap biarawati.

Bulan lalu, organisasi kesusteran dunia yang bernaung di bawah Gereja Katolik mengecam budaya bungkam dan rahasia yang mencegah mereka berbicara lantang tentang perlakuakn tidak pantas terhadap mereka.

Beberapa hari lalu, majalah perempuan Vatikan, Women Church World, mengecam pelecehan itu yang dalam sejumlah kasus membuat biarawati-biarawati terpaksa mengaborsi janin hasil hubungan dengan pastor. Padahal tindakan aborsi dilarang Gereja Katolik.

Majalah itu juga menyebut bahwa gerakan #MeToo memungkinkan lebih banyak perempuan bersuara menceritakan nasib mereka.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut