Waduh, Pejabat Angkatan Laut AS Sebut China Bisa Invasi Taiwan Tahun Ini atau 2023
HONG KONG, iNews.id - Kepala Operasi Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) Michael Gilday menyebut invasi China ke Taiwan bisa saja terjadi paling cepat tahun ini. Pernyataan itu didasarkan atas pidato Presiden Xi Jinping dalam Kongres Partai Komunis China (PKC) pekan lalu.
"Apa yang telah kita lihat selama 20 tahun terakhir adalah mereka (China) telah memenuhi setiap janji yang dibuat lebih awal dari yang disampaikan. Jadi ketika kita berbicara tentang jendela 2027, dalam pikiran saya, itu pasti jendela 2022 atau berpotensi 2023. Saya tidak bisa mengesampingkannya," kata Gilday, dalam diskusi Dewan Atlantik baru-baru ini, seperti dikutip dari South China Morning Post.
Selain pidato Xi, penilaian Gilday itu juga didasarkan atas analisis Philip Davidson, mantan Kepala Komando Indo-Pasifik AS. Saat masih menjabat beberapa tahun lalu, Davidson mengatakan militer China mungkin akan merebut Taiwan dalam 6 tahun ke depan.
Lebih lanjut Gilday menegaskan, prioritas postur AL AS saat ini adalah memperluas jangkauan dalam merespons semakin agresifnya China dan Rusia. Dia menyadari AS tak bisa sendiri dalam menangkal China dan Rusia.
Keadaan ini, lanjut dia, mendorong militer AS untuk mempercepat aliansi militer dengan negara lain, termasuk AUKUS yang melibatkan Inggris dan Australia. Aliansi ini berkomitmen memberikan teknologi kepada Australia, yakni kapal selam bertenaga nuklir.
Dia juga mengungkap pertemuannya dengan Kepala Staf AL Pasukan Bela Diri Jepang Sakai Ryo awal bulan ini yang menekankan kerja sama lebih dalam dalam merespons kondisi di kawasan.
Terlebih lagi, pada Rabu lalu, Menteri Pertahanan China Wei Fenghe mengatakan negaranya menghadapi kondisi keamanan nasional yang hebat dan parah. Dia menegaskan penting bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China untuk mematuhi arahan Xi dalam pidatonya.
Xi dalam pidato di Kongres ke-20 PKC pada Minggu lalu menegaskan, isu Taiwan adalah urusan dalam negeri China. Negaranya akan merebut Taiwan dengan cara apa pun, termasuk menggunakan kekuatan militer.
"Menyelesaikan masalah Taiwan adalah urusan rakyat China dan terserah kepada rakyat China untuk memutuskan. Kami telah berjuang keras untuk mewujudkan reunifikasi damai dengan tulus serta melakukan upaya terbaik, tapi kami tidak akan pernah meninggalkan janji untuk menghentikan penggunaan kekuatan serta menyimpan opsi, melakukan semua tindakan yang diperlukan," tuturnya, kepada sekitar 2.300 delegasi.
Editor: Anton Suhartono