Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ikuti Selera Trump, Warna Pesawat Air Force One Bakal Diubah Jadi Biru-Merah-Emas
Advertisement . Scroll to see content

Warga Palestina Ditembaki Israel, PLO Sindir Amerika

Sabtu, 07 April 2018 - 12:31:00 WIB
Warga Palestina Ditembaki Israel, PLO Sindir Amerika
Warga membawa demonstran Palestina yang luka ditembak pasukan Israel dalam demonstrasi di perbatasan Gaza (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Amerika Serikat memperingatkan situasi di Gaza semakin memburuk. Sejak pekan lalu 26 demonstran tewas ditembak tentara Israel dan ribuan lainnya luka. Banyak di antara mereka yang kondisinya kritis.

Duta PLO untuk AS, Husam Zomlot, mengatakan, kondisi di Gaza saat ini tak bisa lagi menunggu rencana perdamaian yang digagas AS. Dia pun mendesak agar AS memperbarui dukunganya untuk mengakhiri konflik dan kembali ke kesepakatan solusi dua negara.

"Semuanya sedang mendidih di depan semua orang. Ini adalah tekanan dari kompor. Ini akan meledak cepat atau lambat. Ini bukan sesuatu yang bisa kita tunggu," kata Zomlot, dikutip dari AFP, Sabtu (7/4/2018).

(Husam Zomlot/AP)

PLO sudah memutus hubungan dengan Gedung Putih sejak AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017. Kondisi ini turut berkontribusi membuat mandek perjanjian damai Palestina-Israel. Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga menolak keterlibatan AS sebagai mediator damai. Pada akhir pekan lalu Abbas bahkan menolak bertemu dengan Wakil Presiden Mike Pence yang saat itu melakukan lawatan ke Timur Tengah.

"Lihatlah kondisi di Gaza. Sudah selayaknya Pemerintah AS mengecam keras dan mengambil tindakan agar hukum internasional ditegakkan. Tapi kita tak melihat adanya kecaman," kata Zomlot.

Namun Zomlot menegaskan, sikap PLO tetap memutuskan hubungan dengan Gedung Putih sampai ada perubahan sikap. Menurut dia, Palestina tulus bekerja sama dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dan berharap perdamaian akan tercapai. Namun itu semua berubah setelah munculnya klaim bahwa Yerusalem Timur milik Israel.

"Jika Pemerintah AS mengubah posisinya dan kembali ke kebijakan yang telah lama dipegang yaitu solusi dua negara sesuai, Perbatasan 1967 dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina yang berdaulat, ya kami akan terlibat (pembicaraan damai)," katanya.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut