Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tragis! WNI Pekerja Magang di Jepang Tewas Terjepit Mesin Aduk di Pabrik
Advertisement . Scroll to see content

Wow, Jepang Akan Uji Coba Penambangan Mineral Tanah Jarang 6 Km di Bawah Laut

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:47:00 WIB
Wow, Jepang Akan Uji Coba Penambangan Mineral Tanah Jarang 6 Km di Bawah Laut
Jepang akan menguji coba penambangan mineral tanah jarang di kedalaman laut 6 km, dekat kepulauan terpencil Pasifik, pada Februari 2027 (Foto: SIP)
Advertisement . Scroll to see content

TOKYO, iNews.id - Jepang mengumumkan rencana uji coba penambangan skala penuh mineral tanah jarang di dekat kepulauan terpencil Pasifik pada Februari 2027. Lokasi tambang berada di dasar laut sedalam 6 km dari permukaan.

Sebelumnya Jepang berhasil mengambil sampel mineral tanah jarang di lokasi tersebut dan mengidentifikasi kandungan mineral tanah jarang.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan, sampel diambil pada awal 2026 oleh kapal pengeboran laut dalam di dekat Pulau Minamitorishima mengandung jejak yttrium.

"(Yttrium) Sangat langka di dunia dan digunakan untuk bahan pelapis peralatan manufaktur semikonduktor, katalis untuk memurnikan oksida nitrogen berbahaya dalam gas buang, serta industri semikonduktor dan otomotif, menjadikannya tanah jarang yang penting bagi negara kita,” kata Takaichi, dalam posting-an di media sosial X, dikutip Sabtu (25/7/2026).

“Berdasarkan pencapaian ini, kita berencana melakukan uji penambangan skala penuh pada Februari tahun depan,” tulisnya, lagi.

Jepang, kata dia, akan berupaya memperkuat ketahanan rantai pasokan, dengan keterlibatan penuh pemerintah dan sektor swasta, agar tidak bergantung pada negara-negara tertentu.

Sementara itu Badan Sains dan Teknologi Kelautan-Bumi Jepang menyatakan, selain Yttrium, juga ditemukan dua unsur tanah jarang lainnya, gadolinium dan disprosium. Mineral itu terdeteksi saat pengambilan 50 ton sampel material dasar laut.

Jepang, Amerika Serikat, serta banyak negara lain, berupaya untuk mengurangi ketergantungan mineral berharga dari China. Mineral itu digunakan dalam berbagai produk teknologi tinggi, mulai dari rudal hingga turbin angin.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut