Zelensky Sebut Rusia Kuasai 20 Persen Wilayah Ukraina, Minta AS Kirim Senjata Canggih
LVIV, iNews.id - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut 20 persen wilayah negaranya sudah dikuasai Rusia. Dia berharap bantuan senjata lebih besar dari negara-negara sekutu, termasuk Amerika Serikat (AS).
Pernyataan itu disampaikan Zelensky melalui video, Kamis (2/6/2022), malam atau di hari ke-100 invasi Rusia ke Ukraina.
"Seluruh wilayah negara kita yang diduduki sementara saat ini menjadi zona bencana yang utuh, di mana Rusia harus memikul tanggung jawab penuh," kata Zelensky, seperti dilaporkan kembali Reuters, Jumat (3/6/2022).
"Kami mengharapkan lebih banyak berita baik mengenai pasokan senjata dari mitra lain. Kami masih berupaya membawa pasokan sistem tempur modern ke tingkat jauh lebih tinggi," ujarnya, menambahkan.
Pakai Rompi Antipeluru, Zelensky Kunjungi Tentara Ukraina di Garis Depan Pertempuran
Rusia memusatkan serangannya di Donbass, wilayah di bagian timur Ukraina meliputi Luhansk dan Donetsk. Di Provinsi Luhansk saja, pasukan Rusia tinggal merebut dua kota, yakni Sievierodonetsk dan Lysychansk. Sekitar 70 persen daerah Sievierodonetsk sudah dalam penguasaan pasukan Rusia.
Ukraina Terus Digempur, Zelensky Minta Negara Barat Berhenti Main-Main dengan Rusia
Sementara itu Gubernur Donetsk Pavlo Kyrylenko mengatakan, dalam pertempuran sengit di wilayahnya, tiga warga sipil tewas. Dua di antaranya berada di kota penghasil batu bara Avdiivka. Selain itu sembilan orang terluka.
Rusia mengecam pengiriman senjata AS ke Ukraina dengan menyebutnya seperti memasukkan bahan bakar ke api. Pengiriman senjata itu justru membuat perang semakin membara.
Zelensky Kecewa Uni Eropa Terpecah soal Sanksi untuk Rusia: Mengapa Mereka Diizinkan Berkuasa?
AS menyetujui pengiriman paket senjata baru senilai 700 juta dolar untuk Ukraina yang mencakup sistem roket canggih dengan jangkauan hingga 80 km. Pemerintahan Joe Biden menegaskan sudah mendapat jaminan dari Ukraina bahwa senjata itu tak akan digunakan untuk menyerang wilayah Rusia, melainkan sebatas pertahanan.
Editor: Anton Suhartono