Alasan Pemprov DKI Copot Atap JPO Sudirman: Biar Pejalan Kaki Bisa Selfie
JAKARTA, iNews.id – Pencopotan atap jembatan penyeberangan orang (JPO) di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, menuai kritik masyarakat. Bukan hanya dianggap mengabaikan faktor keselamatan dan kenyamanan, Pemprov DKI Jakarta juga dinilai tak paham fungsi fasilitas tersebut.
Derasnya kritik tak membuat Pemprov DKI mundur. DKI berdalih keberadaan JPO di antara Menara Astra-Menara Indofood itu lebih estetik tanpa atap. Selain itu, masyarakat bisa menikmati pemandangan lebih luas.
Kepala Dinas Bina Marga DKI Hari Nugroho menuturkan, pemandangan kawasan Sudirman-Thamrin pada malam hari akan lebih indah. JPO tanpa atap akan memberikan pengalaman tersendiri bagi para warga yang berjalan kaki.
"Pemandangan ke gedung-gedung tinggi memberi suasana dan pengalaman lain. Pengalaman lain lagi nih, selain untuk pejalan kaki juga untuk swafoto, ber-selfie ria. Instagramable lah," ujar Hari di Jakarta, Kamis (7/10/2019).
Warga menyeberang di JPO kawasan Sudirman yang kini tak lagi beratap, Rabu (6/11/2019). (Foto: Antara/M Risyal Hidayat).
Dia menuturkan, peniadaan atap JPO itu sesuai konsep trotoar di Jakarta yang terbuka alias tak memiliki kanopi atau pelindung. Pejalan kaki yang melintasi trotoar terbuka, juga akan mendapat hal sama saat di JPO.
Hari memastikan, JPO itu nantinya juga akan dipasang lampu warna-warni agar semakin menarik untuk dilihat. Penataan lampu tidak menyorot dari atas ke bawah, melainkan sebaliknya, demi kenyamanan pejalan kaki.
"Seperti di pesawat terbang itu kan kalau gelap lampunya di bawah. Jadi orang kalau jalan tetap terang. Jadi keren. Jadi orang nyeberang lihat bawah, lihat atas itu sudah enak," kata dia.

Dia menuturkan, konsep tanpa atap merupakan desain baru JPO yang bakal digerakkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Desain ini akan menjadi wajah baru Jakarta.
Kendati demikian, Hari menegaskan JPO tanpa atap hanya untuk yang menghubungkan antartrotoar. Sementara yang menjadi jalur ke halte TransJakarta masih akan beratap.
"Masa orang mau naik TJ (bus Transjakarta) basah kuyup," kata dia.

Sebelumnya kritik atas JPO tanpa atap itu mengalir deras dari berbagai kalangan. Koalisi Pejalan Kaki, misalnya, melepas atap JPO akan menambah siksaan bagi para pejalan kaki.
"Kan pejalan kaki bukan yang sehat-sehat saja seperti kita ini kan, tapi (ada pula) yang berkebutuhan, seperti lansia, disabilitas lalu anak-anak kecil. Nah itu yang harusnya dipikirkan," kata Ketua Koalisi Pejalan Kaki (KoPK) Alfred Situorus.
Menurut dia, Koalisi Pejalan Kaki sebelumnya telah merekomendasikan JPO itu dirobohkan karena dianggap tak layak, terutama dari sisi aksesibilitas. Bukan justru dicopot atapnya.
Editor: Zen Teguh