Idul Adha di Tengah Pandemi, Bima Arya: Lawan Teori Konspirasi Covid-19
BOGOR, iNews.id - Masjid Agung Al Mi'raj di Jalan Pajajaran, Bogor Timur, Jawa Barat pada Jumat (31/07/2020) pagi menggelar salat Idul Adha berjemaah dengan menerapkan protokol kesehatan. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim turut hadir di sana.
Ditemui usai salat, Bima Arya mengingatkan Idul Adha kali ini merupakan momentum menekan ego untuk mencegah penyebaran covid-19. Dia menyebut penyebaran covid-19 di Bogor masih tinggi karena keegoisan warga.
"Substansi kurban menekan ego kita. Sementara banyak yang egois menganggap diri tidak berbahaya, dari luar kota tidak mau isolasi. Pakai masker tidak mau, jaga jarak tidak mau," katanya.
Dia juga menyebut keegoisan itu memunculkan klaster penularan covid-19 lewat enam keluarga di Bogor. Bima Arya menuturkan ada satu keluarga yang menjadi klaster penularan covid-19 berjumlah 14 orang.
Bima Arya Nilai Penyediaan Bus di Stasiun Bogor Tak Efektif Atasi Antrean Penumpang KRL
Oleh sebab itu dia mengajak warga untuk meninggalkan keegoisan dan pikiran buruk demi kepentingan sendiri. Termasuk tak termakan teori konspirasi covid-19 yang banyak beredar di media sosial dan membuat penerapan protokol kesehatan tak maksimal.
"Yang kita lawan yaitu pemahaman keliru tentang covid-19 terutama teori konspirasi yang banyak beredar di media sosial. Teori konspirasi ini mengajak berpikiran jelek kepada orang lain, kepada pemerintah. Ini bahaya sekali, teori konspirasi khayalan dan harus dilawan, covid-19 nyata adanya," ujarnya.
Bima mengapresiasi penerapan salat Idul Adha di Masjid Al Mi'raj yang menerapkan protokol kesehatan. Dia mengingatkan warga untuk disiplin melaksanakan protokol kesehatan karena situasi masih berbahaya.
Usai ibadah salat Idul Adha, Bima Arya menuju Kampung Cikeas RT 01 / RW 03, Kelurahan Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor. Di sana Bima Arya menyerahkan hewan kurban dan mengimbau kepada panitia untuk membagikan daging langsung ke rumah warga untuk menghindari kerumunan atau antrean.
Editor: Rizal Bomantama