Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Selain Kalsel, KPK Juga OTT di Jakarta
Advertisement . Scroll to see content

Mengenal Salak Condet, Maskot DKI Jakarta yang Terlupakan

Minggu, 29 Agustus 2021 - 05:56:00 WIB
Mengenal Salak Condet, Maskot DKI Jakarta yang Terlupakan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat memanen Salak Condet pada 14 Maret 2019. (Foto: SINDOnews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Gubernur Wiyogo Atmodarminto meneken Keputusan Gubernur Nomor 1796 Tahun 1989 tentang penetapan maskot DKI Jakarta. Elang Bondol dan Salak Condet dipilih sebagai maskot Ibu Kota sampai sekarang.

Namun dua maskot itu seperti dilupakan oleh masyarakat Jakarta di tengah hingar-bingarnya lampu kota dan kemegahan gedung pencakar langit. Bahkan banyak masyarakat salah kaprah dengan mengira maskot DKI Jakarta yaitu Monas.

Khusus untuk Salak Condet, banyak masyarakat Jakarta yang sudah melupakannya. Dari namanya, buah ini berasal dari kawasan Condet, Jakarta Timur.

Keberadaan buah ini memang tak lepas dari kawasan Condet yang berasal dari kata Ci Ondet yang merupakan anak Sungai Ciliwung. Lokasinya yang berada di daerah aliran sungai membuat tanahnya subur dan cocok untuk berkebun serta bertani.

Dikutip dari laman indonesia.go.id, suburnya lahan Condet membuat Willem Vincent Helvetius van Riemsdjik jatuh hati. Dia merupakan tuan tanah sekaligus putra Gubernur Jenderal Jeremies van Riemsdjik yang membeli Condet dari Jacobus Johannes Craan pada 1770.

Helvetius mengembangkan Condet menjadi kawasan pertanian dan peternakan. Selain menghasilkan beras, kawasan ini juga memproduksi tanaman buah berkualitas seperti salak, duku, durian, gandaria, nangka, dan mangga. Pemberian pupuk organik dari kotoran sapi, kerbau, dan kambing menjadikan kualitas serta rasa buah-buahan asal Condet terkenal di kalangan elite Belanda.

Setelah kemerdekaan, Condet terus tumbuh menjadi kawasan penghasil buah terutama salak dan duku yang dikelola oleh masyarakat asli Jakarta yaitu Betawi. Bahkan hasil bumi dari Condet ini bersama produk buah nusantara lainnya disuguhkan kepada para tamu di era Presiden Sukarno.

Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1974 menetapkan kawasan yang terdiri atas Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah sebagai cagar budaya melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. D.IV-1V-115/e/3/1974. Ali Sadikin bahkan menetapkan Condet sebagai cagar buah-buahan.

Pada puncak kejayaannya tahun 1970-an, produksi Salak Condet mencapai 285,7 ton dari dua kali masa panen terutama di bulan Desember. Panen sebesar itu didapat dari 1.656.600 rumpun pohon salak yang tumbuh di atas lahan seluas total 300 hektare.

Buah warna cokelat dengan kulit bersisik serta sedikit duri tipis dijual penduduk ke sentra buah Pasar Minggu yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari Condet. Buah-buahan itu dibawa melewati aliran Sungai Ciliwung dengan perahu dari bambu.

Upaya Pelestarian

Dibangunnya Jalan Raya Condet mengakibatkan terkikisnya kawasan hijau di Condet. Penyebabnya tak lain yaitu arus urbanisasi. Para pendatang banyak yang membeli lahan hijau di kawasan Condet dan mengubahnya menjadi permukiman. Akibatnya masyarakat Betawi yang menempati Condet lama-lama tersisihkan hingga status cagar budaya dicabut pada tahun 2004.

Arus urbanisasi juga mengikis keberadaan Salak Condet. Buah dengan ciri-ciri memiliki rasa asam dan manis dalam satu rumpun buah serta berdaging tebal itu semakin langka seiring dengan perginya masyarakat Betawi.

Pada tahun 2007 Pemprov DKI Jakarta memutuskan membeli lahan 3,7 hektare di Kelurahan Balekambang sebagai habitat asli buah dengan sembilan varietas itu. Lokasi konservasi yang berada di bantaran Sungai Ciliwung tepatnya Jalan Kayu Manis RT 7 RW 5 sempat terbengkalai, namun mulai diseriusi tahun 2013.

Asnawi, salah satu warga di sana tak keberatan menjual sebidang lahannya demi keberlangsungan Salak COndet.

"Saya lebih mengutamakan kepentingan umum kalau masih ada pohon akan terjadi berbagi oksigen," katanya.

Perlu diketahui ada 3.000 pohon Salak Condet yang ditanam di Cagar Buah Condet itu. Pohon baru bisa berbuah setelah 4-5 tahun ditanam dengan proses persemaian memakan waktu lima bulan.

Di antara ribuah pohon itu hanya sekitar 200 pohon yang aktif dengan hasil panen tak mencapai 200 kg. Sebagian hasil panen dibagikan ke masyarakat sekitar dan sebagian dijual di pinggir jalan.

Selain terancam oleh urbanisasi, saat ini Cagar Buah Condet juga terancam banjir yang kerap menerjang. Terutama pada tahun 2018 di mana banjir bandang merendam mayoritas pohon menyebabkan busuk. Untuk menyelamatkan, upaya pelestarian terus dilakukan terutama dengan pengembangbiakkan sistem cangkok.

Semoga segala upaya pelestarian terus dilakukan untuk menjaga keberadaan Salak Condet. Agar buah favorit para pejabat sejak masa kolonial ini tak hanya menjadi kisah bagi anak cucu kita.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut