JAKARTA, iNews.id - PT MRT Jakarta menargetkan jumlah penumpang harian naik pada tahun 2023 ini. Terkait hal itu, Komisi B DPRD DKI Jakarta mendorong penambahan lahan parkir penumpang transportasi publik (park and ride).
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Taufik Azhar mengatakan sejauh ini PT MRT Jakarta belum melengkapi banyak stasiun dengan park and ride. Hal itu disebut membuat banyak masyarakat enggan menaiki MRT dan tetap menggunakan kendaraan pribadinya.
AS Warning Warganya Tinggalkan Iran Sekarang Juga, Invasi Segera Dimulai?
“Saya ingin soroti itu park and ride di ujung ke ujung stasiun MRT, hulu dan hilirnya. Ini sangat banyak dikeluhkan. Masyarakat dari ujung mau naik MRT, tempat parkirnya di mana,” kata Taufik, Rabu (8/2/2023).
Sementara itu, anggota Komisi B Wahyu Dewanto menyebut kinerja pembangunan fasilitas MRT selama ini menunjukkan perkembangan pesat. Sayangnya, fasilitas parkir minim perhatian dan tak sebanding dengan target penumpang yang bertambah.
Targetkan 70.000 Penumpang Harian di 2023, MRT Minta Kemenhub Buka Pembatasan Kuota
“Park and ride-nya kecil sekali. Enggak ada sama sekali. Jangan hanya bangga membangun spot-spot kuliner tapi park and ride-nya di mana. Coba diatur itu gedung-gedung besar itu sediakan tempat parkir besar, boleh kok. Kita bantu nanti. Kita bisa minta PTSP untuk gedor untuk menunjang park and ride MRT dan tarifnya itu harus flat dan murah,” ucap Wahyu.
Merespons hal itu, Direktur Utama (Dirut) PT MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan jumlah penumpang MRT per hari dari Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran HI sepanjang tahun 2022 telah mencapai 54.181 orang per hari. Sementara di tahun 2023 ini, PT MRT Jakarta menargetkan pencapaian jumlah penumpang 65.000 hingga 70.000 per hari.
Tuhiyat menjelaskan park and ride akan ada di depo Lebak Bulus meski hingga saat ini pembangunannya masih terkendala ketersediaan lahan. Dia juga menekankan konsep transportasi massal di negara maju lokasi park and ride berada di awal perjalanan penumpang.
“Park and ride itu hanya ada di ujung ke ujung. Kenapa? Supaya orang naik public transportation. Di negara maju seperti itu. Park and ride di luar kota bukan di tengah kota. Di tengah kota, justru hotel-hotelnya dikurangi park and ride-nya. Itu menuju kota modern seperti itu. Jadi kalau misalnya ada push dari pemerintah untuk mengurangi space parkir di tengah kota, itu akan jauh lebih baik,” tutur Tuhiyat.
Editor: Rizal Bomantama
- Sumatra
- Jawa
- Kalimantan
- Sulawesi
- Papua
- Kepulauan Nusa Tenggara
- Kepulauan Maluku