Rumah Kebanjiran, Warga Ramai-Ramai Dirikan Tenda di Trotoar Jalan Manggarai
JAKARTA, Inews.id - Warga Manggarai, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, ramai-ramai mendirikan tenda di sepanjang Jalan Manggarai Utara 2. Mereka yang mendirikan tenda itu merupakan warga RT 01/RW 04.
Salah satu warga, Slamet mengatakan, pendirian tenda merupakan inisiatif warga karena banjir menerjang rumah. Banjir menggenangi rumah warga pada Kamis (2/12/2020) pagi sekitar pukul 05.00 WIB.
"Saya sama warga yang lain masang tenda ini jam 5 pagi," ujarnya kepada iNews.id di lokasi.
Dalam pantauan iNews.id, terlihat ada empat tenda biru yang didirikan warga. Tenda-tenda tersebut untuk perempuan dan anak, sedangkan laki-laki berjaga memantau kondisi banjir.
"Terus katanya sedikit surut jam setengah 6 tadi. Mau enggak mau tidur di sini, yang penting anak istri saja lah. Saya gampang," katanya.
RT 01/RW 04 terdiri dari 190 kepala keluarga (KK). Ketinggian air yang menggenangi RT 01/RW 04 mencapai 70 hingga 100 sentimeter.
Ketinggian tersebut berbeda antara satu lokasi dengan lainnya, tergantung dari dekat atau tidaknya dengan kali. "Rumah saya mah sudat surut. Kalau di dalem masih se perut," ujar Romlah, warga lainnya di lokasi.
Romlah menjelaskan, air mulai masuk ke dalam rumahnya menjelang Subuh sekitar pukul 03.00 WIB. Romlah dan keluarganya hanya sempat menyelamatkan sedikit barang-barang di rumahnya.
"Karena airnya cepat naik, saya cuma ambil berkas-berkas sama motor," katanya.
Sedangkan, ketinggian air di Pintu Air Manggarai, Jakarta Pusat, terpantau masih tinggi pada Kamis (2/1/2020) siang. Update terakhir pada pukul 10.17 WIB, ketinggian air masih mencapai 860 sentimeter.
Sejumlah petugas dan dua alat berat terlihat disiagakan di pintu air guna mengambil tumpukan sampah yang terbawa aliran sungai. Hingga Kamis siang, sampah yang menumpuk antara lain berupa sampah plastik, perabotan rumah, dan batang ranting pohon.
Salah satu petugas Dinas Sumber Daya Air (Dinas SDA) yang selesai bertugas, Adik mengatakan, para petugas disiagakan selama 24 jam dan bertugas secara bergantian. "Kita kerja normalnya 8 jam. Tetapi kalau kondisinya kayak gini, ya secapeknya saja," ujarnya di lokasi.
Editor: Djibril Muhammad