Stadion Utama GBK Berwarna Pink Sepanjang Oktober 2026, Ini Maknanya!
JAKARTA, iNews.id - Ada pemandangan berbeda di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, sepanjang Oktober 2026. Sejumlah lampu di Ring Road GBK menyala dengan warna pink. Ada apa sebenarnya?
Menurut laporan akun resmi GBK di Instagram, @love_gbk, GBK berwarna pink bagian dari kampanye Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara.
Kampanye tersebut merupakan kolaborasi Lovepink bersama @love_gbk untuk mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan payudara.
Selain pencahayaan berwarna pink di Ring Road GBK, pesan mengenai kesadaran kanker payudara juga ditampilkan melalui videotron di Gate 5 Gelora Bung Karno.
Warna pink yang identik dengan kampanye kanker payudara tersebut bukan sekadar elemen visual. Pencahayaan kawasan GBK diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya mengenali kondisi tubuh dan melakukan deteksi dini.
Lovepink menyampaikan pesan bahwa pink merupakan simbol untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan payudara serta berani mengambil langkah untuk melakukan pemeriksaan.
"Awareness Saves Lives," menjadi salah satu pesan yang disuarakan dalam kampanye tersebut.
Momentum ini juga bertepatan dengan Breast Cancer Awareness Month yang diperingati setiap Oktober. Bulan tersebut menjadi momentum global untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kanker payudara, termasuk pentingnya deteksi dini.
Kampanye kesadaran kanker payudara bukan hal baru bagi Lovepink. Organisasi tersebut sebelumnya juga rutin menggelar berbagai kegiatan edukasi dan pendampingan bagi perempuan yang menghadapi kanker payudara.
Salah satunya melalui Indonesia Goes Pink yang menghadirkan kegiatan edukasi mengenai kanker payudara dan pentingnya deteksi dini. Pada 2022, Lovepink juga menggelar Pink Walk di kawasan Stadion Utama GBK sebagai bagian dari rangkaian Indonesia Goes Pink.
Dengan pencahayaan pink sepanjang Oktober, kawasan GBK kini turut menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat luas.
Editor: Muhammad Sukardi