Tak Punya Biaya, Wati Terpaksa Melahirkan Bayinya di Kolong Tol

Miftahul Ghani ยท Kamis, 13 September 2018 - 05:00 WIB
Tak Punya Biaya, Wati Terpaksa Melahirkan Bayinya di Kolong Tol

Kepala Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya 1 Kedoya, Masyudi. (Foto-foto: iNews/Miftahul Ghani)

JAKARTA, iNews.id – Seorang perempuan gelandangan melahirkan anaknya di kolong jembatan Tol Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Hal itu terpaksa dia lakukan lantaran tak memiliki biaya untuk menjalani persalinan di rumah sakit maupun klinik.

Sejumlah foto ini menunjukkan keprihatinan warga bersama petugas dari Suku Dinas (Sudin) Sosial Kota Jakarta Barat saat mengetahui seorang ibu bernama Wati (39) melahirkan bayinya di kolong jembatan tol tanpa bantuan medis. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang lahir pada Sabtu (8/9/2018) pukul 22.00 WIB itu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, keesokan harinya.

Wati yang hanya seorang gelandangan melahirkan anak tersebut pada saat usia kandungannya baru tujuh bulan. Untungnya, ibu dan sang bayi hingga kini dalam kondisi sehat. Karena tak memiliki rumah alias tunawisma, Wati dan bayi lucu itu pun dibawa ke Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya 1 Kedoya, Jakarta Barat.

“Pada saat kami temukan dan hendak membawanya ke rumah sakit, yang bersangkutan (Wati) dengan berbagai alasan sempat menolak. Mungkin takut dipungut biaya di rumah sakit. Sampai akhirnya teman-teman (dari Sudin Sosial Jakarta Barat) agak memaksa Bu Wati untuk dibawa ke rumah sakit,” tutur Kepala PSBI Bangun Daya 1 Kedoya, Masyudi, kepada iNews, Rabu (12/9/2018).


Masyudi mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan di RSUD Cengkareng, Wati dan bayinya dipastikan dalam kondisi sehat. Setelah mendapat rekomendasi dari dokter setempat, barulah ibu beranak itu dibawa PSBI Bangun Daya 1 Kedoya untuk mendapatkan perlindungan dan perawatan lebih lanjut.

Kendati demikian, karena keterbatasan tempat di panti sosial tersebut, Masyudi berharap pihak keluarga atau suami mau menjemput Wati dan bayinya—yang akhirnya diberi nama Andi Sadeli—untuk dirawat di rumah.

Editor : Ahmad Islamy Jamil