Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 3 Jalur Alternatif Tambun Jakarta, Solusi Ampuh Melibas Kemacetan!
Advertisement . Scroll to see content

Viral Dugaan Pemerasan Kremasi di Jakarta Barat, Polisi Periksa 2 Saksi

Kamis, 22 Juli 2021 - 15:50:00 WIB
Viral Dugaan Pemerasan Kremasi di Jakarta Barat, Polisi Periksa 2 Saksi
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo mengatakan penyelidikan dugaan pemerasaan kremasi masih terus dilakukan. (Foto: MNC Portal Indonesia/Dimas Choirul)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Polisi saat ini menyelidiki dugaan pemerasan kartel kremasi yang terjadi di salah satu rumah duka di kawasan Jakarta Barat. Kabar tersebut viral dan tersebar melalui pesan yang beredar di media sosial.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo mengatakan polisi telah memeriksa pemilik yayasan dan salah seorang penyebar informasi berantai mengenai dugaan pemerasan kartel kremasi itu.

"Artinya sampai saat ini kita masih dalam tahap pendalaman atau penyelidikan untuk pastikan apa yang sebenarnya terjadi," kata dia di Jakarta, Kamis (22/7/2021).

Kendati demikian, Ady belum dapat menjelaskan secara rinci terkait kasus itu. Dia mengatakan nantinya informasi pelapor akan dijadikan acuan agar dapat menyelidiki kasus dugaan pemerasan kartel kremasi lebih lanjut. 

"Pastinya dalam kasus ini kami belum bisa sampaikan hal yang banyak karena masih proses penyelidikan," ucapnya.

Diketahui, sebuah pesan berantai tentang kuitansi kartel kremasi viral di masyarakat. Dalam kuitansi itu tertulis atas nama Martin asal Jakarta Barat. Dia mengaku diperas Rp65 juta oleh sindikat kartel kremasi untuk mengkremasi ibunya yang meninggal dunia di rumah sakit pada Senin (12/7/2021).

Martin terkejut sebab enam pekan lalu kakaknya yang meninggal dunia dan dikremasi, paket tersebut tidak mencapai harga Rp10 juta. Lalu dua pekan kemudian besan kakaknya meninggal bersama anak perempuannya akibat covid-19, paketnya mencapai Rp24 juta per orang. 

"Bagaimana harga bisa meroket begini tinggi dalam waktu singkat?," tutur Martin. 

Dia lalu berupaya menghubungi hotline berbagai krematorium di Jabodetabek. Kebanyakan tidak diangkat sementara yang mengangkat teleponnya mengaku sudah penuh. 

"Kami menghubungi orang yang dulu mengurus kremasi kakak dan dapat keterangan bahwa memang segitu sekarang biayanya. Kemudian dia juga tawarkan Rp45 juta, jenazah juga bisa segera dikremasi tapi besok (Selasa tanggal 13 Juli 2021) di Cirebon," ucapnya. 

"Dari teman kami juga mendapat beberapa kontak yang biasa mengurus kremasi. Ternyata slot bisa dicarikan tapi ada harganya, bervariasi dari Rp45 juta sampai Rp55 juta," katanya. 

Saat itu, dia merasa dalam keadaan kepepet lantaran didesak rumah sakit agar jenazah bisa segera dipindahkan, akhirnya pihak keluarga memutuskan memilih yang di Karawang. Namun, petugas itu berdalih slot yang ada di sana telah diisi oleh orang lain. Kemudian oknum petugas itu berjanji akan mencarikan slot baru di tempat lain.

Tidak lama kemudian orang yang dimaksud kembali menelepon dan mengkabarkan dapat slot untuk lima hari mendatang di krematorium pinggir kota dengan tarif Rp65 juta. 

Besok paginya atau Selasa (13/7/2021) pukul 9.30 WIB Martin dan keluarganya tiba di krematorium di Cirebon. Mobil jenazah ibunya sudah tiba sejak pukul 07.00 WIB dan pihak keluarga memeriksa untuk memastikan bahwa di dalam peti itu jenazah ibunya. 

"Ternyata di dalam mobil jenazah tersebut ada peti jenazah lain, jadi satu mobil sekaligus angkut dua jenazah," katanya. 

Sebelum dapat giliran dikremasi, Martin sempat mengobrol dengan pengurus kremasinya. Petugas mengatakan, bahwa satu harga kremasi dihargai Rp2,5 juta. Namun, karena sekarang ada prosedur covid-19, sehingga diperlukan APD, penyemprotan, dan sebagainya sehingga ada biaya tambahan beberapa ratus ribu rupiah. 

Atas fenomena itu, dia menilai betapa nyamannya kartel ini "merampok" keluarga yang berduka, karena biaya peti dan biaya mobil jenazah (satu mobil dua jenazah) harusnya tidak sampai Rp10 juta. 

"Mereka ini hanya berbekal telepon saja dan bisa booking slot di krematorium, tidak perlu nongol sementara orang lapangan, orang kecil, yang bekerja dan tidak merasakan tetesan keuntungan ini," ucapnya.

Dia menambahkan, pada Sabtu (17/7/2021) pagi, istrinya mendapat kabar dari sang nenek bahwa kerabatnya ada yang kembali meninggal dunia karena covid-19.

"Semula ingin dikremasi tapi kaget dan gak kuat dengar biayanya Rp80 juta itupun harus tunggu beberapa hari lagi. Akhirnya diputuskan dikubur di Rorotan, Gratis dibiayai Pemerintah," ujarnya.

Dia kemudian meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan segera menindak tegas bila ada aparat pemakamannya yang berubah fungsi menjadi calo mencari keuntungan khususnya yang bekerja sama dengan petugas jenazah di rumah sakit dan staf krematorium yang punya hak mengatur slot.

Editor: Rizal Bomantama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut