Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadwal Imsak Bogor 19 Maret 2026, Jangan Telat Sahur!
Advertisement . Scroll to see content

Wartawan Jadi Guru Dadakan dan Ngajar di PAUD, Cara Lain BRI Tebar Inspirasi lewat Pendidikan

Minggu, 29 Januari 2023 - 13:10:00 WIB
Wartawan Jadi Guru Dadakan dan Ngajar di PAUD, Cara Lain BRI Tebar Inspirasi lewat Pendidikan
Jurnalis dari Sportstars.id, Abdul Haris, dan wartawan Republika, Subroto, mengajar anak-anak PAUD di Madrasah Ibtidaiyah al-Badriyah, Desa Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (28/1/2023). (Foto: iNews.id/Ahmad Islamy Jamil)
Advertisement . Scroll to see content

WAKTU masih menunjukkan pukul 08.00 pagi. Hujan gerimis mengguyur Kampung/Desa Gunung Geulis, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun, cuaca basah pagi itu tidak menyurutkan semangat lebih dari 160 murid untuk berkumpul di halaman depan Madrasah Ibtidaiyah (MI) al-Badriyah.

Selang beberapa menit, serombongan jurnalis dari berbagai penjuru Tanah Air tiba di madrasah itu. Ada yang berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan, Bali, bahkan Papua. Kehadiran para pewarta itu didampingi para insan BRILiaN (karyawan BRI) dari kantor pusat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero).

Usai baris-berbaris di halaman sekolah, para murid masuk ke kelas masing-masing, disusul para wartawan yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok tertentu. Setelah memperkenalkan diri dan menyapa siswa, para insan pers tersebut lantas memberikan materi ringan tentang pengenalan dunia jurnalistik kepada para peserta didik itu.

“Ada yang tahu siapa itu wartawan?” tanya Subroto dari Harian Republika, saat memimpin kelas PAUD di MI al-Badriyah, Sabtu (28/1/2023) pagi.

Para murid yang berjumlah sekitar 40 orang di dalam ruangan itu sejurus terdiam, lalu menggelengkan kepala. Subroto lalu menjelaskan bahwa wartawan adalah orang yang bertugas mencari berita dan menyampaikannya kepada masyarakat. Profesi wartawan, kata dia, sangat mengasyikkan karena para jurnalis memiliki peluang untuk berkeliling Indonesia, bertemu para pejabat negara, hingga melakukan perjalanan ke luar negeri.

Berikutnya, giliran Abdul Haris dari Sportstars.id melontarkan pertanyaan kepada murid. “Ada yang pernah nonton bola di TV?” 

Beberapa anak mengangkat tangan. Wartawan olahraga yang juga komentator sepak bola andal yang akrab disapa Bung Ais itu lanjut bertanya: “Siapa pemain bola favorit Adik-Adik?”

“Argentina,” jawab salah satu murid yang disambut gelak tawa para guru dan orang tua yang sedari tadi menyaksikan dari luar kelas.

Abdul Haris kemudian memuji jawaban bocah mungil itu sambil memastikan bahwa yang dia maksud mungkin tim kesukaan, bukan pemain favorit.

Kegiatan dilanjutkan dengan kelas interaktif, diselingi dengan bernyanyi. “Siapa yang mau nyanyi ke depan?” kata Subroto.

Beberapa murid perempuan mengangkat tangan. Mereka pun diminta maju ke depan kelas. “Mau nyanyi lagu apa, Sayang?” ujar redaktur pelaksana Republika itu.

“Lagu ‘Balonku’,” jawab murid-murid itu kompak. Jadilah mereka menyanyikan lirik yang sudah menjadi  lagu anak-anak “sejuta umat” itu.

Setelah puas bernyanyi, kelas pun diisi dengan kuis. Pertanyaan yang diajukan sederhana saja, yakni seputar nama hewan dan tumbuhan. Murid yang dapat menjawab soal yang diberikan wartawan, bakal mendapatkan hadiah bingkisan menarik dari BRI. 

“Siapa yang tahu, hewan apa yang suka menggigit kita kalau lagi tidur malam hari?” tanya Lembai, wartawan iNews.id.

“Nyamuuuuuk,” ucap anak-anak dengan antusias. 

Pertanyaan dari para jurnalis pun terus berlanjut, sampai semua anak kebagian hadiah. Mereka tampak begitu gembira mendapat bingkisan tersebut.

Begitulah secuil gambaran dari program “Jurnalis BRI Mengajar” di Desa Gunung Geulis, Sabtu kemarin. Program tersebut sebagai bentuk partisipasi jurnalis bersama Bank BRI untuk turut andil dalam memajukan bidang pendidikan di Indonesia. Kegiatan itu menjadi bagian dari program CSR (corporate social responsibility) “Ini... Sekolahku!!!” BRI Peduli yang telah berjalan selama bertahun-tahun.

Madrasah Ibtidaiyah al-Badriyah terdiri atas enam ruang kelas SD dan satu ruang kelas pendidikan anak usia dini (PAUD). Tampilan sekolah itu tampak begitu sederhana. Beberapa bagian bangunannya belum rampung dikerjakan. Hampir semua ruang kelasnya belum terpasangi kaca jendela.

“Di sini tidak ada ruang guru. Kalau guru-guru mau rapat, berkumpulnya ya di rumah saya. Saya tinggal di dekat sini,” kata Kepala MI al-Badriyah, Muhammad Mubarok, kepada wartawan saat dijumpai di lokasi, kemarin.

Senior Manager CSR BRI, M Ganjar Nugraha, menyerahkan bantuan peralatan sekolah kepada salah satu murid MI al-Badriyah Gunung Geulis, Bogor, Sabtu (28/1/2023). (Foto: Dok. BRI)
Senior Manager CSR BRI, M Ganjar Nugraha, menyerahkan bantuan peralatan sekolah kepada salah satu murid MI al-Badriyah Gunung Geulis, Bogor, Sabtu (28/1/2023). (Foto: Dok. BRI)

MI al-Badriyah dikelola oleh Yayasan Pendidikan al-Badriyah. Lokasi lembaga pendidikan itu tidak jauh dari kawasan hunian dan wisata elite yang dikembangkan oleh salah satu raksasa pengembang properti di Indonesia. Sayangnya, kondisi masyarakat sekitar Gunung Geulis masih sangat kontras dengan kemewahan yang ditawarkan oleh pihak pengembang tersebut.

“Di kampung ini masih banyak anak putus sekolah. Kadang selepas SD, mereka tidak bisa lanjut ke SMP,” ungkap Mubarok.

Menurut lelaki itu, kendala geografis menjadi salah satu faktor penyebab anak-anak di Gunung Geulis putus sekolah. Pasalnya, SMP terdekat dari desa itu berjarak sekitar 2-4 km dengan medan yang penuh dengan tanjakan dan turunan curam. 

Bagi orang tua yang memiliki sepeda motor, jarak tempuh tersebut mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak punya kendaraan, jarak itu cukup memberatkan bagi anak-anak usia sekolah untuk ditempuh setiap hari.

Karena itulah, Mubarok dan para guru di al-Badriyah memiliki cita-cita untuk terus membangun madrasah yang mereka kelola, sehingga kelak dapat melanjutkannya dengan mendirikan sekolah untuk jenjang tsanawiyah atau SMP. “Dengan begitu, kami berharap anak-anak tidak perlu lagi pergi jauh-jauh cari SMP, dan angka putus sekolah di desa ini pun bisa turun secara signifikan,” kata Mubarok.

Dia menuturkan, semua murid di MI al-Badriyah dibebaskan alias digratiskan dari biaya SPP. Sementara untuk menggaji para guru, pihak yayasan mengandalkan dana  BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang dikucurkan oleh Kementerian Agama.

Selain “Jurnalis BRI Mengajar”, kegiatan kemarin juga diisi dengan penyerahan bantuan renovasi sekolah dari BRI kepada MI al-Badriyah senilai Rp500 juta. Selain itu, ada pula bantuan peralatan belajar untuk semua murid di madrasah itu. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Senior Manager CSR BRI, M Ganjar Nugraha, kepada Mubarok.

“Saya ucapkan terima kasih kepada BRI dan para jurnalis. Semoga anak-anak di sini menyerap ilmu dan inspirasi dari kakak-kakak jurnalis. Siapa tahu kelak ada murid kami di sini yang juga menjadi wartawan,” ucap Mubarok.

Corporate Secretary Bank BRI, Aestika Oryza Gunarto menjelaskan, dalam menjalankan bisnis, BRI tidak semata-mata mementingkan economic value (nilai ekonomi), tetapi juga social value (nilai sosial). Salah satu social value itu ditunjukkan lewat program “Ini... Sekolahku!!!”. 

“BRI peduli dengan pendidikan bangsa. Tahun lalu BRI juga merenovasi hampir 30 SD di seluruh Indonesia,” kata dia.

Sepanjang 2021-2022 ada 29 sekolah di seluruh Indonesia yang telah selesai direnovasi lewat  program “Ini... Sekolahku!!!” BRI Peduli. Total dana yang disalurkan untuk kegiatan tersebut mencapai Rp21 miliar.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut