3 Contoh Cerpen tentang Sumpah Pemuda, Simak Yuk!
JAKARTA, iNews.id - Deretan contoh cerpen tentang Sumpah Pemuda berikut sangat menarik untuk disimak. Cerpen-cerpen ini tak hanya menghibur, tetapi juga membawa pesan moral hingga semangat nasionalisme.
Sebagaimana yang telah diketahui, Sumpah Pemuda merupakan ikrar para pemuda untuk menggalakkan semangat persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.
Momen tersebut yang terjadi pada 28 Oktober 1928 hingga kini terus diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Adapun tiga contoh cerpen tentang Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut.
Di sebuah SMA di kota Bontang, terdapat dua remaja bernama Rudi dan Ari. Keduanya sama-sama duduk di kelas X, tetapi beda ruangan.
Rudi berasal dari keluarga Jawa yang kental dengan budaya dan tradisi mereka. Sedangkan Ari berasal dari Ambon.
Keduanya pindah ke kota Bontang baru-baru ini karena orang tua keduanya mendapat tugas kerja.
Pertemuan pertama mereka tidak begitu istimewa. Rudi dan Ari bertemu di kantin sekolah. Rudi tampak sedang duduk sendirian di meja.
Sementara Ari berdiri ragu-ragu di dekat lini antrian. Melihat itu, Rudi dengan ramah mengajak Ari duduk bersama.
“Ayo, duduklah. Tidak ada yang mencegah kita bersama-sama di sini,” kata Rudi dengan senyum.
Sejak hari itu, persahabatan mereka tumbuh dengan cepat. Meskipun berasal dari budaya yang berbeda, Rudi dan Ari menemukan banyak kesamaan di antara mereka.
Mereka berdua memiliki minat dalam olahraga dan musik. Rudi sering kali memainkan alat musik tradisional Jawa, sementara Ari mahir bermain gitar.
Mereka pun sering berkumpul di taman sekolah setelah jam pelajaran berakhir untuk bermain musik bersama.
Kedua remaja ini sering bertukar cerita tentang kehidupan mereka di daerah asal. Rudi menceritakan tentang tradisi Jawa yang kental di keluarganya, seperti upacara adat dan kuliner khas.
Sementara Ari menceritakan tentang indahnya Pulau Ambon, cerita tentang pantai dan tarian tradisional mereka.
Namun, tidak selalu segalanya berjalan mulus. Ada saat-saat di mana perbedaan budaya membuat mereka merasa canggung atau tidak sepakat.
Tapi Rudi dan Ari selalu menemukan cara untuk berbicara terbuka satu sama lain, mencoba untuk memahami perspektif masing-masing.
Suatu hari, sekolah mengadakan acara besar yang mewakili keragaman budaya di dalamnya. Rudi dan Ari, bersama-sama dengan beberapa teman lainnya, memutuskan untuk membuat sebuah tampilan yang menggambarkan harmoni antara budaya Jawa dan Ambon.
Mereka bekerja keras, menggabungkan elemen-elemen budaya dari kedua daerah untuk menciptakan penampilan yang spektakuler.
Ketika acara dimulai, penampilan mereka berhasil mencuri perhatian semua orang. Tari-tari tradisional dan harmoni musik yang diciptakan oleh Rudi dan Ari membuat penonton terkesima.
Saat mereka selesai tampil, tepuk tangan meriah mengiringi mereka keluar panggung. Setelah acara selesai, Rudi dan Ari merasa puas dengan apa yang mereka capai bersama.
Mereka menyadari bahwa meskipun berasal dari budaya yang berbeda, kebersamaan dan kerja sama adalah kunci untuk merayakan perbedaan dan menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Pada suatu hari, seorang pemuda bernama Budi sedang duduk di perpustakaan sekolah. Budi sedang mengerjakan tugas sekolahnya tentang Sumpah Pemuda. Saat itu, Budi membaca tentang sejarah Sumpah Pemuda. Ia terinspirasi oleh perjuangan para pemuda Indonesia pada masa lalu.
Para pemuda tersebut bersatu dan berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga bertekad untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Budi menyadari bahwa sebagai pemuda, ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Sumpah Pemuda. Oleh karena itu, ia bertekad untuk menjadi pemuda yang berkontribusi positif bagi bangsa Indonesia. Ia akan belajar dengan giat dan mengembangkan potensi diri.
Budi juga akan aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial untuk membantu sesama dan membangun masyarakat. Dirinya percaya bahwa dengan semangat Sumpah Pemuda, ia dapat mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara yang adil, makmur, dan sejahtera.
Budi juga bertekad untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk kemajuan bangsa. Budi bertekad untuk menjadi seorang guru yang baik. Ia ingin mendidik anak-anak Indonesia untuk menjadi generasi yang berilmu, berbudi pekerti, dan cinta tanah air.
Budi percaya bahwa dengan pendidikan, Indonesia dapat menjadi negara yang lebih baik di masa depan. Budi berharap bahwa setiap pemuda Indonesia dapat terus menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Sumpah Pemuda. Dengan semangat Sumpah Pemuda, ia yakin bahwa Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik di masa depan,terutama dalam bidang pendidikan.
Hari itu hari Minggu dan semenjak pagi langit tampak malu-malu memamerkan warna birunya. Malahan, sebujur awan kelam yang semakin bangga dengan gelapnya pagi.
Tidak jauh dari pandang mata, di sebuah kursi kayu yang sederhana duduk seorang pemuda. Dia sendirian, dan sebenarnya darah muda itu sedang menunggu temannya yang sedari pagi mengaku akan berkunjung ke rumah.
Tak lama berselang, teman pemuda itu tiba dan langsung menyapanya dengan semangat.
“Aduh, sudah lama ya nunggunya, Lan. Maaf ya, tadi bonyok-ku belum pulang dari rumah nenek sehingga aku terpaksa menunggu mereka kembali.”
“Oalah begitu kisahnya. Okelah, tiada mengapa, Dika. Eh, bonyok itu maksudnya apa?”
“Aduh, Alan, kamu kok enggak gaul banget sih. Bonyok itu artinya Bokap dan Nyokap.”
“Hemm. Aneh-aneh saja sih singkatanmu. Padahal kan tinggal sebutkan saja kata orang tua.”
Sudah menunggu lama, Alan malah dibuat semakin kesal dengan sikap dan penggunaan bahasa yang digunakan Dika.
Alan merasa bahwa singkatan-singkatan semacam itu hanya sekadar bahasa sok gaul, apa lagi hari itu sedang ada peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Pada ikrar yang ketiga, dikatakan bahwa pemuda dan pemudi Indonesia itu punya janji yaitu menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sontak saja, gaya si Dika terang menodai dan bahkan melukai bahasa yang menjadi identitas Bumi Pertiwi.
“Alan, bagaimana dengan pengumuman lomba baca puisi Sumpah Pemuda pada hari Kamis kemarin? Aku dengan kamu dapat juara 2, ya? CMIIW.”
“Iya benar, baru saja malam tadi pengumumannya. Alhamdulillah aku dapat juara dua. Eh, Dika, CMIIW itu apa lagi?”
“Hehe, maaf, Alan. Kamu masih belum tahu juga ya? CWIIW itu singkatan dari Correct Me If I am Wrong. Artinya, koreksi bila aku salah.”
Alan hanya mengangguk sembari tersenyum. Biar bagaimanapun, Dika adalah teman sekaligus sahabat yang senantiasa menemaninya entah itu di kala suka maupun duka.
Alan tidak ingin mencela sahabatnya lebih jauh, karena dia tahu Dika sedang berusaha belajar Bahasa Inggris demi menggapai cita-cita kuliah di luar negeri.
“O ya, Dika, pada peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini kamu ikut lomba dan kegiatan apa saja?”
“Hemm, kegiatan, ya. Sebenarnya aku mau ikut banyak lomba sih. Aku mau ikut lomba pidato, tapi aku tak begitu paham bagaimana kisah dalam kongres pemuda. Aku ingin ikut lomba cerdas cermat, masih sama saja. Aku tidak percaya diri bahwa aku bisa menang.”
“Oalah, ternyata seperti itu. Ya sudah lah, paling tidak tahun depan kamu wajib ikut, ya. Masa dengan kegiatan penuh sejarah bagi negeri sendiri kita enggan untuk berpartisipasi. Katanya berjiwa nasionalisme, katanya cinta tanah air. Jangan-jangan kamu kemarin tidak ikut upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di sekolah?”
“Hehehe. Iya, aku bangun kesiangan waktu itu. Karena kukira bakal telat, terpaksa deh aku izin sakit.”
“Nah kan!”
Alan menghela napas lebih panjang dari biasanya. Ia pun semakin kesal dengan sikap dan tingkah Dika. Sebagai seorang pemuda Dika seharusnya ikut berpartisipasi terhadap kegiatan yang bertajuk Nasionalisme.
“O ya, Dika, kamu jadi bermalam di rumahku, kan? Nah, nanti sore kita makan jagung bakar sambil melihat swastamita di tebing belakang rumahku ya. Soalnya tadi aku sudah periksa prakiraan cuaca, sebentar lagi langit akan segera cerah.”
“Oke siap laksanakan! Eh, Alan, swastamita itu apa sih? Apa sama seperti singkatan LOL (Laughing Out Loud) atau UWU (Unhappy Without U)?”
“Lha, lha, lha. Kamu ini sebenarnya orang mana sih. Orang Indonesia, atau orang Inggris yang nyasar? Swastamita itu adalah pemandangan indah di saat matahari terbenam.”
“Oalah gitu. Kok aku baru tahu ya? Memangnya itu bahasa apa?”
“Aduh! Itu Bahasa Indonesia, abang ganteng!”
“Hemm. Oke, oke, oke. Aku baru dengar lho. Ternyata Bahasa Indonesia juga terdengar indah dan artinya luar biasa ya.”
“Tentu saja. Eh, aku tes kamu sekali lagi ya Dika. Kamu tahu apa itu arunika?”
“Duh, apa itu Alan, sepertinya bahasa Spanyol ya? Hemm. Aku belum lancar.”
“Nah kan, lagi-lagi tidak pernah dengar. Arunika itu Bahasa Indonesia, artinya cahaya matahari yang muncul beriringan dengan terbitnya matahari.”
“Wah, aku tak menyangka ternyata bahasa kita seindah itu.”
Dika pun terkagum-kagum dengan dua diksi yang diucapkan oleh Alan. Dia merasa malu terhadap diri sendiri. Selama ini ia merasa bangga karena hapal begitu banyak singkatan gaul Bahasa Inggris. Baginya sih keren, tapi tidak lebih keren daripada Bahasa Indonesia.
“Dika, karena kita adalah pemuda harapan bangsa, sudah menjadi kewajiban diri untuk merawat, mencintai, serta menjaga kemurnian Bahasa Indonesia. Belajar bahasa asing itu bagus, sangat bagus malahan. Tapi, gunakanlah di waktu dan keadaan yang tepat. Sekarang ada begitu banyak orang yang mencampur-adukkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sehingga dijuluki keminggris. Mereka kira mereka keren? Padahal tidak. Dan lambat laun, bahasa kita sendiri yang berangsur tenggelam.”
“Siap, Alan. Terima kasih telah menyadarkanku. Engkau benar-benar sahabat terbaikku. Saat ini juga aku ingin belajar lebih banyak tentang Bahasa Indonesia.”
Alan dan Dika pun kembali ceria seiring dengan kabar langit yang mulai memamerkan cerahnya. Mereka bersiap-siap untuk memetik jagung di kebun dan segera menanti datangnya swastamita.
Itulah tiga contoh cerpen tentang Sumpah Pemuda. Semoga menginspirasi.
Editor: Komaruddin Bagja