34 Kampus Turun Tangan Pulihkan Palembayan Pascabencana, 217 Mahasiswa Bantu Warga
BUKITTINGGI, iNews.id – Sebanyak 217 mahasiswa dari 34 perguruan tinggi turun langsung ke Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, untuk membantu masyarakat bangkit setelah terdampak bencana hidrometeorologi.
Mereka terlibat dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) kolaborasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah X dan LLDikti Wilayah III yang mengusung tema 'Bangkik Basamo Mambangun Nagari'.
Program tersebut berlangsung selama 10 hari, sejak 1 Agustus 2026, dan resmi ditutup di Aula Kampus Universitas Fort de Kock (UFdK) Bukittinggi, Senin (10/8/2026).
Kegiatan dipusatkan di Nagari Salareh Aia dan Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan. Mahasiswa menjalankan berbagai program yang menyasar pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, pertanian, hingga penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
Kepala LLDikti Wilayah X, Afdalisma, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antarkampus yang diharapkan tidak berhenti setelah program KKN berakhir.
"Alhamdulillah, malam ini kegiatan KKN Tematik tahun 2026 Sumatera Barat resmi ditutup. Dan ini merupakan KKN kolaboratif antara LLDikti Wilayah X dengan LLDikti Wilayah III yang diikuti oleh 34 perguruan tinggi swasta di wilayah tersebut," kata Afdalisma.
Menurut dia, sebanyak 300 mahasiswa terlibat dalam keseluruhan rangkaian program yang didampingi dosen pembimbing lapangan.
"Semoga ini berkelanjutan terus, tidak berhenti sampai di sini," ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Budi Luhur Jakarta, Arief Wibowo, mengatakan kolaborasi tersebut melibatkan perguruan tinggi dari Jakarta dan Sumatera Barat.
LLDikti Wilayah III menunjuk Universitas Budi Luhur sebagai focal point pelaksanaan KKN Tematik di Jakarta dan sekitarnya. Adapun LLDikti Wilayah X menunjuk Universitas Fort de Kock sebagai focal point di Sumatera Barat.
Arief menyebut pelaksanaan KKN tersebut mencatat jumlah peserta yang besar.
"Kolaborasi ini menghasilkan sebuah rekor peserta KKN Tematik terbesar di Indonesia yaitu sebanyak 217 peserta dari 34 perguruan tinggi di wilayah Jakarta dan sekitarnya maupun Sumatera Barat pada umumnya," ujarnya.
Empat bidang utama menjadi fokus program mahasiswa, yakni pendidikan, ekonomi kreatif, pertanian, dan kesehatan.
Menurut Arief, keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat bukan sekadar memenuhi program pengabdian, tetapi juga menjadi cara perguruan tinggi memberikan dampak langsung bagi lingkungan.
"Dan kami menjadikan ini sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki dampak kepada lingkungan, kepada masyarakat, bangsa, dan negara," katanya.
Rektor UFdK, Evi Hasnita, yang juga menjadi ketua panitia wilayah Sumatera Barat, mengatakan Kecamatan Palembayan dipilih karena menjadi salah satu wilayah yang terdampak bencana.
"Kenapa kami memilih Kabupaten Agam khususnya di Kecamatan Palembayan? Karena Agam sangat terdampak bencana kemarin itu dan kami memilih Palembayan, karena banyak korban di sana, termasuk masyarakat, remaja, dan juga anak-anak," ujarnya.
Karena itu, program KKN tidak hanya diarahkan pada kegiatan akademik, tetapi juga diharapkan membantu kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan di wilayah tersebut.
Salah satu perguruan tinggi yang terlibat adalah MNC University. Kampus tersebut mengirimkan lima mahasiswa dan seorang dosen pendamping lapangan untuk menjalankan program di Salareh Aia dan Salareh Aia Timur.
Dosen Pendamping Lapangan KKN Tematik 2026 MNC University, Topan Dewa Gugat, mengatakan timnya mendapat tugas membuat video profil desa yang mengangkat potensi ekonomi kreatif masyarakat.
"Kami di MNC University ada lima mahasiswa, tiga perempuan dan dua laki-laki dan satu orang dosen pendamping lapangan yaitu saya sendiri," ujarnya.
Mahasiswa kemudian mengidentifikasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari lokasi wisata hingga produk makanan tradisional yang dimiliki masyarakat setempat.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris MNC University, Davina, mengatakan proyek video tersebut dibuat untuk membantu memperkenalkan potensi wisata Salareh Aia Timur.
"KKN yang aku ikuti itu di Kabupaten Agam, tepatnya di Salareh Aia Timur. Di sana kami meliput berbagai banyak hal. Kami membuat proyek profil desa untuk kebutuhan wisata di desa tersebut," katanya.
Bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual MNC University, Raka, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertamanya terjun langsung ke lapangan untuk mengerjakan produksi video.
"Selama mengikuti KKN Tematik ini, yang pasti seru banget. Apalagi ini juga pertama kali kami terjun ke lapangan langsung di mana kami bertugas untuk membuat video. Ini juga menjadi pengalaman baru bagi kami," ujarnya.
Sementara mahasiswa Sains Komunikasi MNC University, Dimas, berharap hasil produksi tersebut dapat membantu memperkenalkan potensi Salareh Aia dan Salareh Aia Timur kepada masyarakat yang lebih luas.
Namun, dia juga melihat masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait infrastruktur dan akses menuju sejumlah lokasi.
"Harapannya tentu saja pembangunannya bisa lebih baik lagi, berjalan dengan lancar dan pemerintah juga cepat untuk melakukan perbaikan karena seperti yang diharapkan para warga di sana juga mereka butuh infrastruktur yang memadai," kata Dimas.
Penutupan KKN Tematik juga menjadi momentum deklarasi Konsorsium Mitigasi dan Pemulihan Bencana yang melibatkan perguruan tinggi, industri, kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah.
Konsorsium tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menghadapi persoalan kebencanaan, termasuk dalam upaya mitigasi dan pemulihan pascabencana.
Afdalisma menilai kolaborasi berbagai pihak penting untuk menghasilkan inovasi dalam menghadapi tantangan kebencanaan.
Dengan berakhirnya program KKN selama 10 hari, kolaborasi LLDikti Wilayah X dan LLDikti Wilayah III diharapkan tidak berhenti pada kegiatan mahasiswa. Program tersebut diharapkan dapat dilanjutkan melalui berbagai bentuk kerja sama untuk memperkuat pemulihan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah terdampak bencana.
Editor: Muhammad Sukardi