4 Tokoh di Balik Pembebasan Irian Barat dalam Operasi Trikora
JAKARTA, iNews.id - Operasi Trikora dilaksanakan untuk membebaskan wilayah Indonesia, yakni Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Di balik keberhasilan pembebasan ini, ada 4 tokoh yang ikut berperan. Siapa saja?
Setelah konsolidasi yang panjang, Irian Barat akhirnya resmi lepas dari Belanda dan kembali ke Indonesia pada 1 Mei 1963. Ini tokoh di balik pembebasan Irian Barat.
Yos Sudarso mempunyai peran di balik pembebasan Irian Barat. Yos Sudarso lahir di Salatiga pada 24 November 1925. Salah satu pertempuran yang pernah dilakukan Yos Sudarso adalah Pertempuran Laut Aru.
Diketahui, pertempuran Laut Aru merupakan pertempuran antara Indonesia dan Belanda di Laut Aru, Maluku pada 15 Januari 1962. Saat itu, Yos Sudarso menjabat sebagai Deputi Operasi KSAL (Kepala Staf Angkatan Laut).
Pada pertempuran tersebut, terdapat tiga kapal Indonesia yang terlibat. Mulai dari KRI Harimau, KRI Macan Kumbang, hingga KRI Macan Tutul.
KRI Macan Tutul dipimpin oleh Yos Sudarso. Sayang, pergerakan Indonesia di Laut Aru terendus oleh Belanda. Saat upaya penyelamatan, mesin KRI Macan Tutul mati hingga akhirnya dapat ditembak Belanda.
KRI Macan Tutul pun meledak dan perlahan mulai tenggelam. Yos Sudarso tewas dalam insiden ini. Atas jasanya, Yos Sudarso diberi gelar pahlawan nasional.
Abdul Haris Nasution juga ikut berperan dalam Operasi Trikora. Jelang pertempuran dengan Belanda, Indonesia mencari bantuan senjata dari luar negeri.
AH Nasution pun mencari bantuan ke Amerika Serikat, negara Blok Timur, Jerman, Inggris, hingga Prancis. Namun akhirnya, kontrak pembelian senjata dilakukan dengan Uni Soviet sebesar Rp2,5 miliar.
AH Nasution juga diangkat sebagai Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (KOTI) Pembebasan Irian Barat. Tak hanya itu, Nasution juga mengadakan pertemuan dengan Ketua Partai Politik Indonesia, I.J Kasimo. Pada pertemuan tersebut, AH Nasution meminta Kasimo untuk menghubungi pimpinan Partai Politik Indonesia agar dapat mempengaruhi Belanda dalam masalah Irian Barat.
Frans Kaisiepo lahir di Biak, 10 Oktober 1921. Pada 31 Agustus 1945, saat Irian Barat masih diduduki Belanda, Frans merupakan salah satu orang yang mengibarkan bendera merah putih serta menyanyikan lagu Indonesia Raya di sana.
Frans juga mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak pada 1946. Tak hanya itu, Frans banyak terlibat mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Papua.
Ia bahkan pernah dipenjara oleh pihak Belanda karena perlawanannya pada kurun 1954-1961. Setelah bebas, Frans Kaisiepo mendirikan partai Irian Sebagian Indonesia (ISI).
Partai bentukannya tersebut menuntut penyatuan Irian Barat dengan Indonesia. Melalui partai ISI, Frans membantu pendaratan sukarelawan Indonesia yang diterjunkan di Mimika.
Atas jasanya, Frans mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana Kelas Dua. Nama Frans juga diabadikan menjadi salah satu kapal perang TNI AL, KRI Frans Kaisiepo.
Tokoh terakhir yang ikut dalam Operasi Trikora adalah Marthen Indey merupakan pahlawan nasional Papua. Pada saat masa penjajahan Belanda, Marthen menjadi anggota polisi Hindia Belanda.
Namun sikap nasionalismenya tidak hilang. Bahkan beberapa kali ia merencanakan pemberontakan kepada Belanda, namun gagal.
Hingga akhirnya, ia ditangkap Belanda pada 1945. Setelah bebas dari penjara, Marthen turut terlibat dalam pembebasan Irian Barat.
Marthen pun menyusun kekuatan gerilya sembari menunggu kedatangan tentara Trikora. Pada 15 Agustus 1962, disepakati Perjanjian New York usai konsolidasi yang panjang terkait pembebasan Irian Barat. Diketahui, Marthen adalah salah satu tokoh yang mewakili Irian sebagai delegasi Indonesia dalam perjanjian tersebut.
Editor: Puti Aini Yasmin