Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bantu Korban Bencana, TNI AL Kerahkan 5 KRI ke Sumatera
Advertisement . Scroll to see content

5 Fakta Denjaka Pasukan Elite TNI AL, Salah Satunya Harus Punya IQ Tinggi

Senin, 10 Juli 2023 - 06:08:00 WIB
5 Fakta Denjaka Pasukan Elite TNI AL, Salah Satunya Harus Punya IQ Tinggi
Pasukan elite Denjaka TNI AL (dok. Dispen Kormar)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) merupakan pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) ini bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan antiteror, antisabotase, dan kemampuan klandestin dalam aspek laut. 

Denjaka didirikan berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984, yang dikeluarkan pada tanggal 13 November 1984. Awalnya, Denjaka berasal dari Pasukan Khusus AL (Pansusla) yang didirikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) pada tanggal 4 November 1982, dengan tujuan menghadapi berbagai ancaman dalam aspek laut. 

Menurut Peraturan KSAL Nomor 30 Tahun 2020 tentang Penataan Organisasi Detasemen Jala Mengkara Korps Marinir, Denjaka berada di bawah tanggung jawab tiga pihak sekaligus. Dalam hal pembinaan kemampuan umum, Dankormar bertanggung jawab, sedangkan pembinaan kemampuan khusus ditangani oleh Kabais TNI. Untuk penggunaan kekuatan dan kesiagaan operasional, tanggung jawabnya berada pada Panglima TNI.

Berikut ini lima faktanya:

1. Dimulai dengan 70 Prajurit

Seperti yang diketahui, Denjaka merupakan pengembangan dari Pansusla yang didirikan oleh KSAL pada tahun 1982. Pada tahap awal, sekitar 70 personel direkrut dari Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Pansusla berada di bawah komando dan pengendalian Panglima Armada Barat (Armabar). 

Melihat perkembangan dan kebutuhan, KSAL kemudian mengajukan permohonan kepada Panglima TNI untuk membentuk Detasemen Jala Mengkara. Permohonan ini kemudian disetujui.

2. Pendidikan Sangat Berat

Dalam artikel yang dikutip dari situs resmi TNI dengan judul "Pasukan Elite TNI Bergerak Secepat Angin" yang diterbitkan pada tanggal 28 November 2005, setiap prajurit Denjaka wajib mengikuti pendidikan Penanggulangan Teror Aspek Laut (PTAL) selama kurang lebih 5,5 bulan. 

Kursus ini dilaksanakan di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, dan mencakup materi intelijen, taktik dan teknik antiteror, antisabotase, dasar-dasar spesialisasi, serta komando kelautan.

Pendidikan lanjutan dilakukan di lapangan, seperti di hutan, laut, bahkan udara. Calon anggota Denjaka dilatih dalam situasi ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang sering kali menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki terikat, para prajurit tersebut dilemparkan ke laut yang ganas. 

Mereka harus bertahan hidup dan menyelamatkan diri. Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dihadapkan pada tantangan bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan, kecuali garam. Mereka dituntut untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di hutan. Di dalam hutan, mereka ditempatkan untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan individu selama berhari-hari.

Mereka sering kali harus memakan binatang liar, seperti ular, monyet, dan lain sebagainya, untuk bertahan hidup. Latihan udara juga menjadi bagian dari pelatihan, di mana prajurit Denjaka dilatih untuk terjun bebas. 

Latihan terjun bebas tidak hanya dilakukan pada siang hari, tetapi juga pada tengah malam. Dengan demikian, jika mereka harus masuk ke dalam sasaran musuh, mereka tidak perlu melalui darat atau laut yang mudah terdeteksi oleh lawan. Denjaka juga dapat diinfiltrasikan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi oleh musuh. Karena kemampuannya yang demikian, Denjaka dikenal sebagai pasukan Hantu Laut.

3. Memiliki Kecerdasan Tinggi

Selain memiliki ketahanan fisik yang kuat, prajurit Denjaka juga harus memiliki kecerdasan tinggi atau IQ yang tinggi. Mereka dituntut untuk mengambil keputusan dan tindakan dengan cepat sesuai dengan situasi di lapangan. Selama pendidikan, hanya 20 persen yang dilakukan dalam bentuk teori di kelas, sedangkan sisanya adalah latihan di lapangan. 

Itulah sebabnya hanya sedikit dari banyak calon prajurit Denjaka yang berhasil lulus. Konon, hanya sekitar 50 orang yang lulus setiap tahunnya dari berbagai jenis ujian. Berkat kemampuan yang dimiliki, prajurit Denjaka dianggap setara dengan 12 prajurit tempur biasa.

4. Dilengkapi dengan Senjata Khusus

Untuk mendukung operasi mereka, prajurit Denjaka juga dilengkapi dengan berbagai jenis senjata. Beberapa di antaranya adalah submachine gun MP5, HK PSG1, Daewoo K7, senapan serbu G36, HK416, M4, Pindad ss-1, CZ-58, senapan mesin ringan Minimi M60, Daewoo K3, serta pistol Beretta, HK P30, dan SIG Sauer 9 mm.

5. Semboyan Prajurit Satya Wira Dharma

Denjaka memiliki semboyan khusus yang dikenal dengan Satya Wira Dharma. Semboyan ini melambangkan janji seorang ksatria untuk melindungi harkat dan martabat keluarga, agama, nusa, bangsa, dan masyarakat. 

Karena itu, selain operasi militer, Denjaka juga sering terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Salah satu contohnya adalah ketika mereka terlibat dalam pencarian pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di Perairan Kepulauan Seribu pada tanggal 9 Januari 2021.

Editor: Muhammad Fida Ul Haq

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut